Kantor pusat PT Pertamina (Persero), berlokasi di Graha Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat. | Pertamina

PT Pertamina (Persero) memproyeksikan laba bersih mencapai US$3,3 miliar atau sekitar Rp54 triliun pada akhir 2025. Target itu disampaikan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (17/11). Proyeksi ini meningkat dari realisasi laba 2024 yang mencapai US$3,13 miliar atau Rp49,54 triliun.

Pada dua tahun sebelumnya, perusahaan juga mencatat tren pertumbuhan. Pada 2023, laba bersih Pertamina berada di kisaran US$2,7 miliar atau sekitar Rp42 triliun, terdorong pemulihan permintaan energi dan penyesuaian harga BBM. Tren kenaikan laba selama tiga tahun berturut-turut menjadi dasar optimisme manajemen menghadapi tekanan pasar tahun ini.

Meski menargetkan kenaikan laba, Pertamina memperkirakan pendapatan turun menjadi US$68,7 miliar atau Rp1.127 triliun pada 2025. Realisasi pendapatan pada 2024 mencapai US$75,33 miliar atau Rp1.194 triliun. 

Manajemen menyebut penurunan pendapatan tidak akan mengganggu margin usaha karena efisiensi operasional dan strategi pengendalian biaya.

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza menjelaskan proyeksi EBITDA 2025 mencapai US$9,6 miliar atau Rp158 triliun. “Fundamental kondisi keuangan tetap terjaga di mana tahun ini net profit after tax Pertamina diproyeksikan berada di sekitar US$3,3 miliar atau setara Rp54 triliun,” ujar Oki dalam rapat tersebut.

Dari sisi operasional, produksi minyak dan gas tetap stabil di kisaran 1 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), dengan yield kilang sekitar 84%.

Simon menyebut tekanan global seperti pelemahan Indonesian Crude Price (ICP), kenaikan biaya migas, serta volatilitas rupiah masih membayangi industri sepanjang 2025. “Kami mempertahankan kedisiplinan finansial serta meningkatkan efisiensi di seluruh lini,” katanya.

Hingga September 2025, kontribusi Pertamina kepada negara telah mencapai Rp262 triliun melalui pajak, PNBP, dan dividen. Perusahaan tetap menjadi penyumbang fiskal terbesar di antara BUMN dan menargetkan kontribusi konsisten di atas Rp300 triliun per tahun.

Untuk dividen, Pertamina melaporkan telah menyerahkan Rp23 triliun dari total kewajiban Rp42,1 triliun atas kinerja tahun buku 2024 kepada Danantara. Menurut Oki, mekanisme pembayaran dilakukan bertahap mengikuti kemampuan kas dan kebutuhan negara.