Situs pemancar 5G Vodafone di Hattstedt, dekat Husum. | Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Malaysia mengklaim sebagai salah satu negara dengan tarif internet termurah di dunia setelah Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil menyebut biaya internet seluler di negara itu hanya sekitar 2 sen per gigabyte. 

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kunjungannya ke Baku, Azerbaijan, pada Senin, 17 November 2025, saat memimpin delegasi Malaysia ke konferensi World Telecommunication Development Conference 2025 atau WTDC-25.

Menurut keterangan Fahmi, 2 sen Malaysia setara dengan 0,02 ringgit atau sekitar Rp80 per gigabyte berdasarkan kurs pada hari yang sama. Ia menyebutkan biaya tersebut menjadi indikator akses digital yang semakin terjangkau bagi masyarakat.

“Malaysia termasuk 10 negara yang tarif internetnya per gigabyte hanya sekitar 2 sen,” ujar Fahmi dalam pernyataan yang dikutip kantor berita nasional Malaysia. Ia menambahkan bahwa harga internet murah menjadi bagian dari komitmen pemerintah memperluas konektivitas digital.

Selain tarif yang rendah, Fahmi mengungkapkan Malaysia telah mengoperasikan jaringan 5G dengan kecepatan tinggi. Ia menyebut kecepatan internet 5G di negaranya saat ini menjadi yang tercepat di Asia Tenggara dan kedua tercepat di Asia Pasifik setelah Korea Selatan. Peluncuran jaringan dilakukan melalui model single wholesale network yang dikelola Digital Nasional Berhad (DNB).

Perbandingan biaya internet kemudian menjadi sorotan setelah laporan We Are Social 2025 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tarif internet broadband tetap termahal di Asia Tenggara. 

Dalam laporan tersebut, biaya broadband tetap di Indonesia berada pada kisaran 0,41 dollar AS per megabit per detik atau sekitar Rp6.800. Angka itu menempatkan Indonesia pada posisi ke-12 sebagai negara dengan tarif internet termahal dari lebih dari 60 negara yang dianalisis.

Berikut daftar negara dengan tarif internet termahal berdasarkan laporan tersebut:

Tarif Internet Termahal di Dunia (per Mbps broadband tetap):

1. Uni Emirat Arab — 4,31 USD (± Rp71.500)

2. Ghana — 2,58 USD (± Rp42.900)

3. Swiss — 2,07 USD (± Rp34.400)

4. Kenya — 1,54 USD (± Rp25.600)

5. Maroko — 1,16 USD (± Rp19.300)

6. Australia — 1,05 USD (± Rp17.400)

7. Jerman — 1,04 USD (± Rp17.300)

8. Nigeria — 0,72 USD (± Rp11.950)

9. Kanada — 0,66 USD (± Rp10.950)

10. Pakistan — 0,53 USD (± Rp8.800)

11. Afrika Selatan — 0,50 USD (± Rp8.300)

12. Indonesia — 0,41 USD (± Rp6.800)

13. Hong Kong — 0,39 USD (± Rp6.500)

14. Bangladesh — 0,36 USD (± Rp6.000)

15. Austria — 0,36 USD (± Rp6.000)


Sementara itu, daftar tarif internet broadband di kawasan Asia Tenggara menunjukkan Indonesia berada di posisi paling mahal.

Tarif Internet Broadband di ASEAN (per Mbps):

1. Indonesia — 0,41 USD (± Rp6.800)

2. Filipina — 0,14 USD (± Rp2.325)

3. Malaysia — 0,09 USD (± Rp1.494)

4. Vietnam — 0,04 USD (± Rp664)

5. Singapura — 0,03 USD (± Rp498)

6. Thailand — 0,02 USD (± Rp332)


Hingga saat ini belum ada keterangan dari pemerintah Indonesia mengenai evaluasi biaya internet nasional, termasuk apakah tarif broadband dan layanan seluler akan ditinjau seiring meningkatnya kebutuhan akses digital dan persaingan harga di kawasan.