HMS Prince of Wales (R09), kapal induk kelas Queen Elizabeth milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris. | Mat Fascione — CC BY-SA 2.0

Inggris Raya menempatkan kapal induk HMS Prince of Wales beserta jet tempur siluman F-35B di bawah komando NATO untuk pertama kalinya. Pengumuman disampaikan Menteri Pertahanan Inggris John Healey saat berada di lepas pantai Naples, Italia, Senin waktu setempat, sebagai bagian dari kesiapan tempur aliansi setelah kelompok serang kapal induk dinyatakan mencapai kemampuan operasi penuh. 

Pemerintah Inggris menyebut langkah ini membuat NATO memiliki kelompok serang kapal induk pertama yang dilengkapi pesawat tempur generasi kelima di bawah komando langsung aliansi.

Penempatan ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi keamanan Eropa akibat perang Ukraina dan aktivitas militer Rusia di Laut Hitam serta Mediterania. 

Sejumlah analis pertahanan Barat menyebutkan NATO tengah memperkuat pertahanan maritimnya setelah peningkatan patroli kapal selam Rusia di rute energi dan jalur logistik utama kawasan.

HMS Prince of Wales saat ini membawa 24 pesawat F-35B Lightning milik Inggris. Jumlah ini menjadi rekor tertinggi penempatan jet tempur tersebut di satu kapal induk, melampaui rekor 20 unit pada kapal amfibi Amerika Serikat USS Tripoli pada 2022 sebagaimana dilaporkan The War Zone dan Euro-SD. Pesawat-pesawat tersebut berasal dari 809 Naval Air Squadron Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan 617 Squadron RAF.

Selama latihan Falcon Strike pada 3–14 November bersama Italia, Prancis, Yunani, dan Amerika Serikat, pesawat F-35B Inggris tercatat melakukan lebih dari 1.000 sorti. 

Pemerintah Inggris menyebut komposisi 24 pesawat merupakan jumlah minimum untuk full operational capability kelompok serang kapal induk Inggris, target yang awalnya dijadwalkan pada 2023.

“Kita berada di era baru ancaman yang menuntut era baru untuk pertahanan. Kekuatan kita berasal dari kekuatan militer dan aliansi yang kuat,” kata Healey dalam pernyataan tertulis pemerintah Inggris.

Penempatan tersebut mengikuti lima bulan operasi kapal induk di Indo-Pasifik yang dimulai April 2025 dalam Operasi Highmast, termasuk latihan bersama Australia, Jepang, dan India. 

Pemerintah Inggris sebelumnya menegaskan keterlibatannya di kawasan Indo-Pasifik sebagai bagian dari strategi pertahanan maritim global yang terkoneksi dengan struktur keamanan NATO dan aliansi seperti AUKUS.

Selanjutnya, kelompok tempur kapal induk akan bergabung dalam latihan skala besar NATO Neptune Strike di Laut Mediterania. Latihan mencakup pengujian peperangan anti kapal selam, pendaratan amfibi, serta penguasaan jalur logistik maritim strategis. 

Lebih dari 4.000 personel Inggris, termasuk pasukan Norwegia dan mitra regional, terlibat dalam latihan tersebut menurut keterangan resmi pemerintah.

Langkah ini sejalan dengan strategi pertahanan NATO-first yang tercantum dalam Strategic Defence Review 2025. Dokumen itu menegaskan prioritas Inggris memperkuat peran keamanan Eropa di tengah perubahan fokus militer Amerika Serikat ke Indo-Pasifik serta meningkatnya tuntutan pembagian beban pertahanan di dalam aliansi.