![]() |
| Konvoi Tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang berkumpul di dekat perbatasan Gaza. | Thomas Coex/Getty Images |
Tentara Israel menembaki pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) saat patroli di Lebanon selatan pada Minggu, 16 November 2025. Insiden terjadi dekat perbatasan di area El Hamames ketika tembakan senapan mesin dari tank Merkava mengenai tanah sekitar lima meter dari posisi pasukan UNIFIL yang sedang berjalan kaki di jalur patroli.
UNIFIL menyebut insiden ini sebagai pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang mengatur gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah.
UNIFIL melaporkan bahwa pasukannya sempat berlindung dan menghubungi militer Israel melalui saluran komunikasi resmi. Setelah sekitar 30 menit, tank Israel mundur dan patroli UNIFIL dapat meninggalkan lokasi dengan aman.
Militer Israel (IDF) mengakui adanya penembakan tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dikutip Reuters dan media lokal The Times of Israel, IDF menyebut tembakan itu sebagai kesalahan identifikasi.
Menurut IDF, para prajurit melepaskan tembakan peringatan setelah menduga ada aktivitas mencurigakan di tengah kondisi cuaca buruk di dekat perbatasan. “Tidak ada tembakan yang disengaja diarahkan ke pasukan UNIFIL,” tulis IDF, seraya menyebut masalah ini telah dibahas melalui jalur koordinasi militer.
Kecaman disampaikan UNIFIL tidak lama setelah insiden. “Tembakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi 1701 dan membahayakan operasi penjaga perdamaian,” ujar UNIFIL dalam keterangan resminya.
Ketegangan antara pasukan Israel dan UNIFIL meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pada Oktober, pasukan penjaga perdamaian menembak jatuh drone militer Israel karena terbang rendah di atas patroli “dengan cara agresif”.
Bulan lalu, UNIFIL juga menuding Israel menjatuhkan granat melalui drone di dekat personelnya dalam tiga insiden terpisah, salah satunya menyebabkan seorang pengamat terluka ringan.
Pemerintah Lebanon menilai penembakan terbaru ini sebagai eskalasi berbahaya. Militer Lebanon menyebut tindakan Israel telah melanggar kedaulatan dan menghambat penempatan penuh pasukan pemerintah di wilayah selatan pascagencatan senjata.
Di sisi lain, laporan resmi yang dikutip France24 dan Al Jazeera menunjukkan Lebanon telah mendokumentasikan 4.527 dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak perjanjian November 2024 diberlakukan, termasuk serangan udara, artileri, dan pelintasan darat.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mengatur bahwa hanya militer Lebanon dan UNIFIL yang diperbolehkan beroperasi di wilayah selatan Sungai Litani.
Namun, Israel masih mempertahankan keberadaan militernya di beberapa titik yang mereka sebut “lokasi strategis” dan terus melancarkan serangan terhadap target yang diklaim sebagai infrastruktur dan operatif Hezbollah.
Lebanon juga berencana mengajukan keluhan baru ke Dewan Keamanan PBB terkait pembangunan tembok perbatasan oleh Israel yang menurut UNIFIL menghalangi akses ke lebih dari 4.000 meter persegi wilayah Lebanon.
“Pembangunan tersebut merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan dan integritas teritorial Lebanon,” kata UNIFIL.
Hingga berita ini diturunkan, kedua pihak masih berkomunikasi melalui saluran militer bersama, sementara situasi di garis demarkasi Blue Line dilaporkan tetap tegang dan diawasi ketat.

0Komentar