![]() |
| Penjualan LCGC turun 34,8 persen sepanjang Januari–Oktober 2025, sementara mobil listrik murah mencatat lonjakan penjualan dan mulai menguasai pasar. | APLUSWIRE/Robin Santoso |
Pasar mobil Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia mengalami penurunan tajam sepanjang Januari–Oktober 2025. Berdasarkan data penjualan wholesales, segmen ini hanya mencatat 97.556 unit atau turun 34,8 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 149.583 unit.
Tren tersebut berlangsung di tengah lonjakan penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) yang menembus 69.146 unit, lebih tinggi dari total penjualan BEV sepanjang 2024 sebanyak 43.188 unit.
Penurunan ini terjadi di tengah pelemahan daya beli, kenaikan harga kendaraan entry-level, dan meningkatnya insentif untuk mobil listrik. Tren pergeseran pasar ini berlangsung di tengah kompetisi yang semakin ketat di segmen kendaraan hemat biaya.
Harga LCGC terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir, dari kisaran Rp80 juta saat diluncurkan pada 2013 hingga kini mencapai Rp200 jutaan. Di sisi lain, produsen otomotif mulai mengisi pasar dengan mobil listrik berharga serupa, seperti Wuling Air EV yang dipasarkan Rp184 juta–Rp200 jutaan, Seres E1 berada pada rentang Rp189 juta–Rp219 jutaan, dan VinFast VF 3 yang dibanderol Rp227 juta.
Persaingan semakin terbuka setelah BYD Atto 1 diluncurkan dengan harga Rp195 juta–Rp235 jutaan. Model tersebut menawarkan dimensi setara LCGC berbahan bakar bensin namun dengan fitur dan spesifikasi yang lebih tinggi. Mobil listrik juga mendapat insentif PPN 1 persen, sementara LCGC dikenakan tarif PPN 12 persen ditambah pajak daerah hingga 12,5 persen.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menyebut penurunan kelas menengah menjadi faktor signifikan dalam perlambatan segmen ini.
“Penyebab pertama, melemahnya daya beli middle-low akibat penyusutan populasi kelas menengah kita sebesar 16,6 persen sejak 2019, ditambah inflasi 4,11 persen yang membuat segmen target pasar terbesar dan captive market APM Jepang ini semakin sensitif dan kritis terhadap harga,” ujar Yannes.
Di sisi lain, perubahan kebijakan juga dinilai berdampak. Tri Mulyono, Marketing & Customer Relations Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation, menyebut penyesuaian pajak turut menekan struktur harga.
“Selain daya beli yang melemah, perubahan kebijakan PPnBM untuk segmen LCGC ikut memberi tekanan. Kondisi lembaga pembiayaan juga belum pulih karena rasio kredit macet masih tinggi, sementara sebagian besar pembelian LCGC dilakukan dengan kredit,” kata Tri dalam keterangan kepada Bisnis.com.
Meski tertekan sepanjang tahun, pasar LCGC menunjukkan perbaikan bulanan pada Oktober 2025. Penjualan meningkat menjadi 8.505 unit, naik 9 persen dibanding September yang hanya 7.795 unit.
Toyota Calya mencatat penjualan tertinggi dengan 3.057 unit, diikuti Honda Brio Satya sebanyak 2.021 unit, serta Daihatsu Sigra 1.689 unit berdasarkan data Katadata dan CNN Indonesia.
Namun secara tahunan, penjualan Oktober masih turun tajam 42 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 14.765 unit.

0Komentar