![]() |
| Uang kertas dolar dan yuan. | oilprice.com |
Tren penggunaan yuan China sebagai alternatif dolar AS dalam pembiayaan negara berkembang semakin terlihat dalam dua tahun terakhir. Sejumlah negara mulai mempertimbangkan mengalihkan sebagian utang luar negeri mereka ke yuan untuk menekan biaya bunga dan mengurangi eksposur ke greenback.
Namun, International Monetary Fund (IMF) mengingatkan bahwa strategi tersebut membawa konsekuensi baru yang perlu dihitung secara hati-hati.
Dalam pernyataan terbarunya, IMF menyebutkan bahwa opsi pendanaan menggunakan yuan memang dapat menurunkan biaya dalam jangka pendek. Namun, risiko nilai tukar dan keterbatasan likuiditas pasar yuan berpotensi menambah kerentanan baru dalam struktur utang.
“Transaksi dapat menurunkan biaya, tetapi berpotensi memperkenalkan risiko nilai tukar bergantung pada struktur pinjaman,” tulis IMF dalam keterangan yang dirilis awal November 2025.
Minat negara berkembang meningkat
Data dari pasar menunjukkan peningkatan minat terhadap pembiayaan berbasis yuan. Instrumen seperti panda bonds menawarkan imbal hasil sekitar 2,4% pada 2025, lebih rendah dibanding obligasi dolar dengan tenor setara.
Sri Lanka dilaporkan mengajukan pendanaan sebesar US$500 juta untuk proyek infrastruktur, sementara Hungaria menyiapkan penerbitan obligasi senilai 5 miliar yuan.
Di Afrika, penggunaan yuan dalam utang publik juga mulai terlihat. Kenya menjadi salah satu contoh yang telah mengonversi sebagian pembiayaan proyek kereta api dari dolar ke yuan.
Pemerintah Kenya menyebutkan langkah tersebut mengurangi beban pembayaran tahunan sekitar US$215 juta. Penghematan itu cukup signifikan mengingat mata uang Kenyan Shilling sempat melemah 26% terhadap dolar pada 2023 sebelum kembali stabil di 2024 dan 2025.
Ethiopia juga mempertimbangkan opsi serupa. Negara tersebut sedang melakukan restrukturisasi utang setelah gagal bayar obligasi senilai US$1 miliar. Pemerintah mengkaji kemungkinan mengalihkan sebagian lebih dari US$5,3 miliar pinjaman menjadi denominasi yuan.
Namun, Ethiopia menghadapi tekanan yang lebih berat karena cadangan devisa terbatas dan nilai tukar Ethiopian Birr tercatat sebagai salah satu yang terlemah di Afrika sepanjang Januari–Agustus 2025.
Dolar masih mendominasi
Meski minat pada yuan meningkat, data global menunjukkan posisi mata uang tersebut masih relatif kecil. Bank for International Settlements (BIS) mencatat hingga akhir Juni 2025, dolar AS menguasai sekitar 62,9% pasar obligasi internasional.
Euro berada di posisi kedua dengan 24,8%. Sementara itu, obligasi berdenominasi yuan hanya mencapai sekitar 0,9% atau setara US$185 miliar dengan penerbit dari 33 negara.
IMF menilai ketimpangan tersebut penting diperhatikan. Dengan pasar yang dalam dan likuiditas tinggi, dolar tetap menjadi jangkar sistem keuangan global. Sebaliknya, pasar yuan yang relatif terbatas membuat negara peminjam harus menghadapi volatilitas tambahan ketika proporsi utang yuan bertambah.
Risiko cadangan devisa dan currency mismatch
Selain risiko likuiditas, IMF juga menyoroti persoalan kompatibilitas antara pendapatan dan kewajiban utang. Negara yang pendapatannya masih berbasis dolar namun membayar kewajiban dalam yuan berpotensi menghadapi currency mismatch jika volatilitas meningkat.
Analis Autonomi Capital, Deepak Dave, menjelaskan bahwa pinjaman berbasis yuan memaksa negara untuk menambah cadangan devisa dalam bentuk yuan sebagai penyeimbang. Kondisi ini dinilai masih menjadi tantangan terutama bagi negara dengan ekspor berbasis dolar atau yang cadangan devisanya belum terdiversifikasi.
Tekanan Global dan Upaya Diversifikasi
Perkembangan ini muncul ketika beberapa negara sedang menghadapi biaya utang yang meningkat. Laporan IMF Global Financial Stability Report April 2025 menyebutkan bahwa negara berkembang menghadapi biaya pembiayaan paling tinggi dalam satu dekade terakhir.
Di sisi lain, terdapat tren diversifikasi cadangan devisa dan perdagangan lintas negara yang mulai bergerak menjauh dari dolar, terutama setelah pandemi dan perubahan geopolitik.
Data survei BIS 2025 menunjukkan yuan telah mencapai pangsa 8,5% di pasar valuta asing global, naik dari 7% pada 2022. Namun, dolar masih terlibat dalam sekitar 89% dari seluruh transaksi valas di dunia. Dalam cadangan devisa global, data IMF kuartal II 2025 menunjukkan dolar masih mendominasi dengan sekitar 56,32%, sementara yuan berada di kisaran 2%.
Sejauh ini, penggunaan yuan untuk pendanaan internasional masih berada di tahap awal dan lebih didorong faktor biaya. Meski demikian, IMF mengingatkan bahwa keputusan ini tidak hanya soal tingkat bunga, tetapi terkait stabilitas, kesiapan pasar, dan struktur cadangan devisa.
Dengan kondisi pasar mata uang global yang masih didominasi dolar dan volatilitas yang mungkin terjadi, IMF menekankan bahwa setiap negara perlu menyusun peta risiko sebelum memutuskan penggunaan mata uang alternatif seperti yuan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

0Komentar