Korea Utara mengirim sekitar 5.000 personel militer tambahan ke Rusia sejak September 2025 untuk proyek rekonstruksi. (KCNA)

Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) melaporkan bahwa sekitar 5.000 personel militer tambahan Korea Utara telah dikirim ke Rusia sejak September untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek rekonstruksi. Pengiriman pasukan tambahan itu menjadi sinyal meningkatnya kerja sama militer antara Pyongyang dan Moskwa di tengah perang Rusia yang masih berkecamuk di Ukraina.

Anggota parlemen Korea Selatan Lee Seong-kweun mengatakan kepada wartawan bahwa pasukan konstruksi tersebut telah bergerak ke Rusia secara bertahap sejak September dan diperkirakan akan dimobilisasi untuk rekonstruksi infrastruktur.

Ia menambahkan, NIS juga mendeteksi pengiriman sekitar 1.000 insinyur Korea Utara untuk membantu operasi pembersihan ranjau di wilayah yang terdampak konflik, sebagaimana dilaporkan oleh Channel News Asia pada selasa (4/11).

Menurut data intelijen Seoul, total personel militer Korea Utara yang kini ditempatkan di Rusia mencapai sekitar 15.000 orang. Dari jumlah itu, sekitar 10.000 pasukan berada di dekat perbatasan Rusia–Ukraina untuk menjalankan tugas penjagaan. 

NIS juga mencatat adanya tanda-tanda berkelanjutan pelatihan dan seleksi personel di Korea Utara, sebagai bagian dari persiapan pengiriman tambahan pasukan ke Rusia.

Media Reuters sebelumnya mengutip laporan intelijen Korea Selatan yang memperkirakan sedikitnya 600 tentara Korea Utara tewas dan ribuan lainnya terluka dalam perang di Ukraina.

Pertukaran strategis Pyongyang–Moskwa

Pengiriman ribuan personel ini disebut sebagai bagian dari kesepakatan strategis antara kedua negara. Para analis memperkirakan Korea Utara memperoleh kompensasi berupa bantuan keuangan, teknologi militer, bahan bakar, dan pasokan pangan dari Rusia sebagai imbalan atas dukungan tersebut. 

Pengaturan semacam ini dinilai memberi ruang bagi Pyongyang untuk menghindari tekanan sanksi internasional yang dijatuhkan atas program nuklirnya.

Kerja sama itu diformalisasi lewat Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang ditandatangani oleh Kim Jong Un dan Presiden Vladimir Putin pada Juni 2024. Dalam kunjungan berikutnya pada April lalu, Putin bahkan memuji pasukan Korea Utara yang disebutnya “telah menunjukkan dedikasi tinggi di medan tempur,” seperti dilaporkan EADaily dan Pravda.ua.

Sementara itu, NIS juga menyebut adanya “kemungkinan tinggi” pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah latihan militer gabungan AS–Korea Selatan pada Maret 2026.

Pengiriman personel tambahan Korea Utara ini menegaskan semakin eratnya hubungan militer antara Pyongyang dan Moskwa, di tengah isolasi diplomatik yang masih membayangi kedua negara di panggung internasional.