![]() |
| Observatorium Astronomi Radio Afrika Selatan. (Futurism) |
Perdebatan mengenai asal-usul komet antarbintang 3I/ATLAS kembali mencuat setelah teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan mendeteksi sinyal radio pertama dari objek tersebut pada awal November 2025. Temuan yang sempat memicu spekulasi soal kemungkinan asal buatan itu akhirnya dikonfirmasi sebagai emisi alami yang dihasilkan oleh radikal hidroksil (OH), molekul yang terbentuk ketika sinar Matahari memecah uap air.
South African Radio Astronomy Observatory menjelaskan bahwa sinyal tersebut muncul pada frekuensi 1665 dan 1667 megahertz, khas dari aktivitas komet yang sedang melepaskan gas (outgassing). Hasil ini menguatkan kesimpulan bahwa 3I/ATLAS merupakan komet alami yang berasal dari luar tata surya, bukan teknologi buatan seperti yang diklaim sebagian pihak.
Astrofisikawan Harvard Avi Loeb sebelumnya menyebut kemungkinan 30–40 persen bahwa 3I/ATLAS bukan sepenuhnya objek alami, merujuk pada pancaran tidak biasa yang muncul setelah pendekatan terdekatnya ke Matahari pada 29 Oktober. Dalam wawancara dengan NewsNation, 10 November, Loeb berargumen bahwa pancaran tersebut bisa menyerupai sistem propulsi.
Namun pandangan itu segera dibantah oleh sejumlah ilmuwan. Fisikawan teoretis Michio Kaku dalam wawancara 8 November menegaskan bahwa 3I/ATLAS adalah “pengumpul sampah” kosmik berusia miliaran tahun yang membawa berbagai material dari ruang antarbintang.
“Spekulasi tidak masalah, tetapi Anda harus mengukurnya. Jika tidak, Anda hanya membuat panik publik,” ujar Kaku, dikutip dari International Business Times.
Sementara itu, astronom Penn State Jason T. Wright menilai objek tersebut menunjukkan perilaku komet klasik, yaitu memiliki koma, ekor, dan pelepasan gas yang konsisten dengan model alami. Dalam blog resminya, 9 November, Wright menyebut pendekatan Loeb sebagai “sekadar bertanya” tanpa bukti kuat dan berpotensi menyesatkan publik.
Di sisi lain, kontroversi meningkat setelah NASA belum merilis citra resolusi tinggi dari kamera HiRISE di Mars Reconnaissance Orbiter yang menangkap 3I/ATLAS ketika melintas dekat Mars pada 2 Oktober.
Anggota Kongres Anna Paulina Luna meminta lembaga itu segera membuka data tersebut. Dalam unggahan 5 November, Luna mengatakan NASA akan merilis gambar “segera setelah pemerintah dibuka kembali.”
Loeb mengkritik keterlambatan itu dan membandingkannya dengan rilis foto resolusi rendah dari wahana China, Tianwen-1, yang lebih dulu dipublikasikan.
Hingga kini, 3I/ATLAS, juga dikenal sebagai C/2025 N1 (ATLAS) terpantau bergerak melintasi langit timur menjelang subuh dengan ekor yang terus memanjang. Para astronom memperkirakan komet tersebut akan mencapai jarak terdekatnya dari Bumi pada 19 Desember mendatang.

0Komentar