Kepala kemanusiaan PBB menyatakan Sudan sebagai pusat penderitaan dunia, dengan lebih dari 12 juta warga mengungsi dan puluhan ribu tewas akibat konflik antara militer dan RSF. | UNHCR/Andrew McConnell

Kepala kemanusiaan PBB Tom Fletcher menggambarkan Sudan sebagai “pusat penderitaan di dunia” setelah kunjungan selama sepekan ke wilayah yang dilanda perang, ketika lebih dari 12 juta orang mengungsi dan sedikitnya 40.000 orang tewas dalam bentrokan antara Sudan Armed Forces (SAF) dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). 

Fletcher melakukan perjalanan ke Darfur pada awal November, bertemu penyintas di Tawila dan Korma setelah RSF merebut El Fasher, ibu kota Darfur Utara, pada akhir Oktober. “Ini benar-benar tontonan yang mengerikan,” ujarnya dalam pengarahan di New York.

Serangan RSF pada 28 Oktober memicu krisis baru ketika lebih dari 460 pasien dan pendamping dibantai di Rumah Sakit Bersalin Saudi di El Fasher, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Para penyintas menggambarkan kekerasan brutal yang mencakup eksekusi massal, pemerkosaan berkelompok, penyiksaan, dan penjarahan. 

Volker Türk, Kepala HAM PBB, menyebut rangkaian kekejaman tersebut sebagai “kejahatan yang paling berat”, termasuk pembunuhan warga sipil, penyiksaan berbasis etnis, penculikan untuk tebusan, hingga serangan terhadap fasilitas medis.

Situasi memburuk setelah pengepungan El Fasher selama 18 bulan, yang memaksa sekitar 90.000 warga melarikan diri dalam dua pekan terakhir. Seorang penyintas mengatakan kepada BBC Arabic bahwa pasukan RSF “merekam kami, menyiksa dan menghina kami, serta mencuri barang-barang kami” sepanjang pelarian.

Akar krisis

Konflik berdarah ini bermula pada 15 April 2023, ketika SAF dan RSF yang sebelumnya bersekutu pecah setelah perselisihan mengenai rencana integrasi RSF ke dalam angkatan bersenjata. Ketegangan meningkat oleh perebutan pengaruh politik, faktor etnis, dan kendali ekonomi. 

Di Darfur, kekerasan memiliki akar panjang: RSF berawal dari milisi Janjaweed yang sebelumnya dituduh melakukan pembersihan etnis terhadap komunitas Masalit dan kelompok non-Arab lain sejak awal 2000-an.

Setelah perang pecah, infrastruktur vital di Sudan ambruk. Fasilitas kesehatan, jaringan listrik, akses air bersih, gudang pangan, dan kantor lembaga kemanusiaan banyak yang hancur atau dijarah. Kota-kota besar seperti Khartoum, Omdurman, hingga wilayah Darfur menjadi lokasi pertempuran sengit yang menutup sepenuhnya jalur bantuan.

Lembaga kemanusiaan menyebut krisis ini sebagai salah satu yang paling cepat memburuk dalam dua dekade terakhir. Banyak kamp pengungsi seperti Zamzam dan Abu Shouk juga diserang, memperburuk kondisi jutaan pengungsi internal yang kini tidak memiliki tempat aman untuk berlindung.

Krisis kelaparan terbesar di dunia

Sudan kini menghadapi salah satu krisis kelaparan paling parah di dunia. Lebih dari 21,2 juta penduduk, hampir separuh populasi negara itu mengalami kerawanan pangan akut. 

Kondisi kelaparan sudah dikonfirmasi terjadi di El Fasher dan Kadugli, sementara 375.000 orang berada dalam kategori kelaparan paling serius. Sedikitnya 20 wilayah tambahan berisiko menyusul jika akses kemanusiaan tidak segera dibuka.

“Sepertiga dari orang yang tiba di El Fasher mengalami kekurangan gizi, 15 persen anak-anak di bawah lima tahun menderita bentuk kekurangan gizi yang paling mematikan,” kata Fletcher. Komisi Afrika untuk Hak Asasi Manusia melaporkan tingkat kekurangan gizi akut di kamp Tawila mencapai lebih dari 70% untuk anak usia dini.

Krisis pangan diperparah oleh gangguan distribusi bahan bakar, blokade terhadap konvoi bantuan, dan peningkatan harga pangan yang tidak terjangkau bagi sebagian besar warga. Beberapa organisasi mencatat penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dalam sengketa wilayah antara SAF dan RSF.

Upaya internasional dan krisis pengungsi

Dalam kunjungannya, Fletcher bertemu pemimpin SAF Jenderal Abdel-Fattah Burhan di Port Sudan dan mengadakan pertemuan “sulit” dengan perwakilan RSF. Keduanya diklaim memberi komitmen pembukaan akses kemanusiaan, namun PBB menyebut implementasinya masih perlu dipantau. 

“Kami mendapat kesepakatan yang cukup kuat mengenai jalur aman bagi konvoi kami untuk masuk dan bagi warga sipil untuk keluar. Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya,” katanya.

Perang ini juga menciptakan krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini, dengan lebih dari 4 juta warga Sudan melarikan diri ke negara tetangga, termasuk Chad, Ethiopia, dan Mesir. Total perpindahan internal dan eksternal diperkirakan telah melampaui 10 juta orang, menjadikannya salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern Afrika.

Organisasi internasional, termasuk UNHCR dan Komite Penyelamat Internasional, memperingatkan bahwa angka korban jiwa sebenarnya bisa jauh lebih tinggi dari catatan resmi, diperkirakan mencapai 150.000 jika kelaparan dan penyakit akibat perang ikut dihitung.