Foto: KAI

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan perluasan layanan kereta api di luar Pulau Jawa mulai 2026. Langkah ini dilakukan dengan menjadikan China sebagai acuan utama dalam pengembangan jaringan dan industri perkeretaapian nasional.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan hal tersebut saat mendampingi Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam kunjungan resmi ke Beijing, Rabu (12/11/2025). Menurutnya, kunjungan tersebut bertujuan mempelajari sistem transportasi dan peluang kerja sama dengan industri perkeretaapian China.

“Tujuan kunjungan ke China ini adalah untuk belajar, bermitra, dan mempercepat pengembangan jaringan kereta penumpang maupun logistik di Indonesia,” ujar Bobby di Beijing, dikutip dari Antara, Kamis (13/11). 

Delegasi Indonesia dijadwalkan bertemu dengan Menteri Transportasi China serta sejumlah pelaku industri di Beijing, Qingdao, dan beberapa kota lainnya.

China sebagai referensi

Bobby menjelaskan, China dipilih sebagai referensi karena kemajuan sistem transportasinya yang dinilai paling unggul di dunia. 

“China saat ini nomor satu dalam sistem, operasi, jaringan, dan industri kereta. Kondisi geografis dan demografis Indonesia mirip dengan China, sehingga kami melihat penting untuk belajar langsung dari mereka,” katanya.

Perbandingan infrastruktur kedua negara menunjukkan kesenjangan signifikan. Panjang rel di China mencapai 120 ribu kilometer, sedangkan Indonesia baru memiliki sekitar 7 ribu kilometer. Dari sisi layanan, China mampu mengangkut ratusan juta penumpang setiap hari, sementara di wilayah Jabodetabek baru sekitar 1,1 juta penumpang per hari.

Ekspansi di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi

Kunjungan ke China ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Stasiun Tanah Abang pada 4 November lalu. Presiden meminta KAI mempercepat pembangunan 30 titik perpanjangan rel dan rangkaian baru dalam waktu satu tahun.

“Mau tidak mau kami harus mulai ekspansi itu di tahun 2026, dan tentunya Pak Presiden maunya dilaksanakan serta selesai dalam periode pertama beliau,” ujar Bobby.

KAI akan memprioritaskan pembangunan jaringan kereta logistik di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi untuk mengangkut komoditas seperti kelapa sawit, karet, kopi, timah, dan nikel. Di China, pembahasan juga mencakup potensi pembiayaan proyek dan pembangunan green field di Kalimantan yang akan dimulai dari nol.

Berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025, sejumlah proyek strategis nasional di luar Jawa telah disiapkan. 

Di antaranya infrastruktur kereta logistik di Kalimantan Timur, jalur Makassar–Parepare di Sulawesi, dan lintasan Tebing Tinggi–Kuala Tanjung di Sumatera. Saat ini, jalur kereta di Sulawesi baru mencapai 83 kilometer dari potensi 300 kilometer.

Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat konektivitas dan efisiensi logistik antarwilayah, sejalan dengan target pemerataan pembangunan transportasi nasional.