![]() |
| SS Jeremiah O’Brien, satu dari empat kapal Liberty yang masih ada hingga kini, pada potret tahun 2022. | Wikipedia (CC BY-SA 4.0 |
Kapal intelijen Amerika Serikat USS Liberty diserang pesawat tempur dan kapal torpedo Israel pada 8 Juni 1967 saat berada di perairan internasional dekat Semenanjung Sinai. Insiden yang berlangsung di tengah Perang Enam Hari itu menewaskan 34 pelaut dan melukai lebih dari 170 awak kapal.
Israel menyebut serangan terjadi akibat salah identifikasi, sementara sebagian pihak di AS hingga kini menilai kejadian tersebut tidak sepenuhnya keliru teknis.
Serangan dimulai sekitar pukul 15.05 waktu setempat ketika jet Israel menembakkan roket dan bom ke arah kapal. Sekitar 20 menit kemudian, tiga kapal torpedo Israel mendekat dan satu torpedo menghantam sisi kanan kapal. Meski mengalami kerusakan berat, USS Liberty berhasil keluar dari area tempur dan kemudian mendapat perbaikan darurat.
USS Liberty merupakan kapal riset teknis tipe AGTR-5 dengan kemampuan pengumpulan sinyal intelijen atau SIGINT dan beroperasi tanpa dukungan tempur penuh. Kapal ini membawa antena komunikasi besar dan sistem penyadapan elektronik atas penugasan National Security Agency (NSA). Pada saat kejadian, kapal berada sekitar 25 mil laut dari pesisir Sinai, masih dalam batas perairan internasional.
Dalam keterangan resmi setelah insiden, pemerintah Israel menyebut kapal itu dikira sebagai kapal perang Mesir. Dokumen pemeriksaan awal yang dikutip sejarawan James M. Ennes menyebut pasukan Israel “menduga serangan itu berasal dari kapal perang” milik musuh.
Namun sebagian anggota awak menyatakan kapal mereka membawa bendera AS berukuran besar dan tanda identifikasi yang seharusnya terlihat jelas dari udara.
Hasil penyelidikan bersama AS dan Israel saat itu menyimpulkan serangan sebagai kesalahan identifikasi. Namun dokumen NSA dan CIA yang kemudian dideklasifikasi menunjukkan adanya komunikasi internal militer Israel yang “mulai merasakan kejanggalan” sebelum serangan berakhir. Sejauh ini, masih terdapat arsip terkait insiden tersebut yang belum dipublikasikan.
Reaksi publik AS ketika itu beragam. Sejumlah anggota Kongres meminta penyelidikan terbuka, sementara keluarga korban mendorong pemerintah melakukan pemeriksaan ulang. Beberapa media besar di AS sempat memberitakan insiden tersebut secara terbatas karena status sensitif hubungan diplomatik kedua negara.
Kapten William L. McGonagle, komandan kapal, terluka saat memimpin evakuasi dan pengendalian kerusakan. Dalam kesaksiannya kepada Angkatan Laut AS, ia menyebut alarm bahaya berbunyi sesaat sebelum gelombang pertama serangan udara menghantam dek kapal.
Israel kemudian menyampaikan permintaan maaf resmi dan memberikan kompensasi total sekitar US$12 juta kepada keluarga korban dan pemerintah AS. Presiden AS saat itu, Lyndon B. Johnson, menerima kompensasi tersebut, walaupun perdebatan publik mengenai motif serangan terus berlangsung.
Insiden USS Liberty dicatat sebagai serangan pertama terhadap kapal perang AS setelah Perang Dunia II dan menjadi salah satu momen paling sensitif dalam hubungan militer dan intelijen antara Washington dan Tel Aviv.
Hingga kini, perdebatan mengenai apakah serangan tersebut merupakan kesalahan taktis atau tindakan disengaja masih menjadi bahan kajian akademis dan diskusi veteran.

0Komentar