FDI ke Indonesia terus menguat pada 2025, ditopang sektor manufaktur, hilirisasi, dan stabilitas makro. | Wikimedia Commons. Lisensi: CC BY-SA 4.0.

Kepercayaan investor asing terhadap Indonesia tercatat terus menguat sepanjang 2025. Tren ini ditopang stabilitas rupiah, pertumbuhan manufaktur, dan kebijakan ekonomi yang diklaim konsisten di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

Mengutip laporan Katadata pada Jumat (14/11), Global Chief Economist Juwai IQI, Shan Saeed, menyebut kombinasi faktor tersebut membuat Indonesia menjadi standout performer di Asia Tenggara.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi periode Januari–September 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun atau 75,3 persen dari target tahunan. Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi Rp644,6 triliun atau 44,9 persen, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berada di angka Rp789,7 triliun atau 55,1 persen.

Menurut data BKPM dan CNBC Indonesia, proyeksi nilai PMA sepanjang tahun ini berada di rentang US$52–57 miliar. Hilirisasi mineral, baterai kendaraan listrik, petrokimia, pusat data, dan manufaktur berat disebut sebagai motor utamanya.

Singapura, Hong Kong, dan China tercatat sebagai tiga investor terbesar dengan nilai masing-masing US$12,6 miliar, US$7,3 miliar, dan US$5,4 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Subsektor manufaktur logam dasar memimpin dengan realisasi US$10,8 miliar, diikuti pertambangan US$3,5 miliar serta industri kimia dan farmasi sebesar US$2,6 miliar.

Di sektor industri, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level 51,2 pada Oktober 2025, naik dari 50,4 pada September. Trading Economics mencatat angka tersebut menandai ekspansi selama tiga bulan berturut-turut.

Sementara itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen pada kuartal III-2025. Sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan 5,54 persen secara tahunan. Di pasar keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di kisaran 8.370 per 14 November 2025, ditopang aliran modal asing dan likuiditas domestik.

Stabilitas makro juga diperkuat cadangan devisa yang masih berada di rentang US$140–145 miliar dan inflasi di level 2,86 persen per Oktober, berdasarkan data Bank Indonesia dan CNBC Indonesia. Rupiah tercatat stabil di sekitar Rp16.695 per dolar AS pada awal November.

“Doktrin Stabilitas Makro Prabowo bukan sekadar slogan, ini adalah arsitektur strategis yang mulai membentuk lintasan baru ekonomi Indonesia,” ujar Shan Saeed dalam keterangannya, dikutip CNBC Indonesia.

Di sisi lain, regulator dan pelaku usaha masih mengantisipasi dinamika global seperti suku bunga The Fed, prospek ekonomi China, hingga harga komoditas sebagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arus masuk modal ke Indonesia.