![]() |
| Ekspor Indonesia naik 8,14% hingga mencapai US$ 209,8 miliar pada Januari–September 2025. |
Nilai ekspor Indonesia menembus US$ 209,8 miliar pada periode Januari–September 2025, naik 8,14% dibandingkan periode sama tahun lalu. Lonjakan ini ditopang oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 12,58% serta ekspor nonmigas yang naik 9,57% menjadi US$ 199,77 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan capaian tersebut menandai tren positif ekspor nasional di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan.
“Peningkatan ini menunjukkan resiliensi sektor ekspor kita, meski masih tertinggal dari Singapura dan Vietnam yang lebih kuat di manufaktur,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (4/11/2025).
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor Indonesia masih di bawah Singapura (US$ 550 miliar) dan Vietnam (US$ 350 miliar) yang fokus pada produk berteknologi tinggi dan manufaktur berbasis ekspor. Pemerintah pun menyiapkan strategi untuk memperkuat basis industri domestik melalui hilirisasi dan pengembangan sektor pengolahan bahan mentah.
Hilirisasi pertanian perkuat nilai tambah
Dari sisi komoditas primer, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat kinerja impresif dengan pertumbuhan ekspor 38,25% sepanjang Januari–Agustus 2025, mencapai US$ 4,57 miliar. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi menjadi kunci untuk mengerek nilai tambah produk pertanian.
“Kita dorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah ekspor. Selama ini, kita ekspor bahan mentah dan diolah negara lain, lalu dijual kembali dengan harga puluhan kali lipat. Kini saatnya Indonesia memimpin hilirisasi komoditasnya sendiri,” kata Amran dalam pernyataannya, dikutip dari Antara (3/11/2025).
Pemerintah menyiapkan investasi Rp 371 triliun guna memperkuat hilirisasi sektor pertanian, termasuk tahap awal senilai Rp 9,9 triliun untuk pengadaan bibit unggul seperti kakao, kelapa, kopi, mente, lada, dan pala secara gratis kepada petani. Program ini ditargetkan menciptakan 1,6 juta lapangan kerja dalam dua tahun mendatang, menurut data Sekretariat Kabinet (Setkab).
Manufaktur ekspansif tiga bulan berturut-turut
Dari sisi industri, sektor manufaktur Indonesia melanjutkan momentum ekspansi selama tiga bulan berturut-turut. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke level 51,2 pada Oktober 2025, dari 50,4 di bulan sebelumnya, menandakan aktivitas produksi dan pesanan baru terus meningkat.
“Tren ekspansi manufaktur yang konsisten menjadi sinyal bahwa perekonomian nasional berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat,” kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, dikutip dari laman resmi Kemenko Perekonomian (3/11/2025).
Menurut laporan IHS Markit, ekspansi tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, stabilnya konsumsi rumah tangga, serta kebijakan fiskal dan pengadaan barang pemerintah yang mengutamakan produk dalam negeri.
Saat ini sekitar 70% ekspor Indonesia berasal dari industri pengolahan, meningkat tajam dari hanya 30% lima belas tahun lalu.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekspor, penguatan hilirisasi pertanian, dan ekspansi manufaktur, pemerintah menilai struktur ekspor Indonesia mulai bertransformasi menuju basis industri bernilai tambah tinggi, membuka peluang peningkatan daya saing di tengah ketatnya perdagangan global.

0Komentar