Pesawat Boeing E-3 Sentry milik NATO di landasan udara. Pesawat berkemampuan radar AWACS ini digunakan untuk misi pengintaian dan peringatan dini di kawasan Eropa. (Wikipedia, konten dilisensikan di bawah CC BY-SA 4.0.)

Sekutu NATO mempercepat pengerahan kekuatan militer di Eropa Timur setelah serangkaian insiden yang disebut para ahli sebagai bagian dari “Fase Nol”, tahap persiapan Rusia menuju potensi konflik terbuka dengan aliansi Barat. 

Operasi pertahanan udara besar-besaran diluncurkan di sepanjang perbatasan timur Eropa menyusul pelanggaran wilayah udara Polandia oleh drone Rusia pada awal September 2025.

Operasi Eastern Sentry resmi dimulai pada 12 September 2025, tiga hari setelah sekitar 19 hingga 23 drone Rusia menembus wilayah udara Polandia dalam serangan yang disebut pejabat NATO sebagai pelanggaran terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. 

Insiden tersebut memicu respons gabungan yang melibatkan pesawat tempur F-35 Belanda, sistem pertahanan udara Patriot Jerman, dan jet F-16 Polandia. Empat drone dilaporkan berhasil ditembak jatuh.

Panglima Tertinggi Sekutu NATO untuk Eropa, Jenderal Alexus Grynkewich, mengatakan aliansi tak menunggu hasil investigasi penuh untuk bertindak. “Meskipun penilaian lengkap masih berjalan, NATO tidak menunggu, kami bertindak,” ujarnya seperti dikutip ABC News.

Operasi ini melibatkan koordinasi kekuatan udara dan darat dari Denmark, Prancis, Jerman, serta Inggris di sepanjang garis depan timur. Langkah itu menandai penguatan defensif terbesar NATO dalam lebih dari satu dekade.

Ketegangan meningkat lagi awal November, ketika drone tak dikenal beberapa kali melintas di atas Pangkalan Udara Kleine-Brogel, Belgia—lokasi yang diyakini menyimpan senjata nuklir Amerika Serikat. 

Menteri Pertahanan Belgia menyebut pola penerbangan itu mengarah pada dugaan keterlibatan Rusia dan mengategorikannya sebagai bagian dari “perang hibrid” Moskwa di Eropa, seperti dilaporkan Fox News.

Lonjakan pengeluaran pertahanan Eropa

Peningkatan ancaman juga mendorong lonjakan belanja pertahanan NATO ke rekor tertinggi. Menurut data Stars and Stripes dan Reuters, total pengeluaran aliansi mencapai 1,6 triliun dolar AS pada 2025, naik 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, seluruh 32 anggota memenuhi target 2 persen dari PDB untuk pertahanan.

Dalam kesepakatan Juni 2025, negara-negara anggota menyetujui target baru, yaitu, alokasi 5 persen PDB untuk pertahanan dan keamanan pada 2035, dengan 3,5 persen difokuskan pada kebutuhan militer dan 1,5 persen untuk infrastruktur serta kesiapsiagaan sipil. CNBC mencatat, keputusan ini menandai komitmen jangka panjang Eropa terhadap keamanan kolektif.

Polandia mencatat rencana pengeluaran pertahanan tertinggi di kawasan, yakni 4,8 persen dari PDB pada 2026, setara sekitar US$45 miliar. 

Di sisi lain, Jerman membentuk dana persenjataan kembali sebesar 500 miliar dolar AS dan mengecualikannya dari aturan batas utang nasional. Para analis menyebut langkah tersebut sebagai kebangkitan militer terbesar Eropa sejak Perang Dingin.

Fase Nol: perang psikologis dan serangan siber

Laporan Institute for the Study of War menunjukkan Rusia tengah menjalankan “Fase Nol”—tahap pengondisian psikologis dan informasi untuk mempersiapkan konfrontasi dengan NATO. 

Dalam laporan Newsweek dan Al Jazeera, para ahli menyebut Moskwa mempercepat operasi hibrid, termasuk sabotase infrastruktur dan kampanye disinformasi lintas negara.

Data Euronews mencatat serangan siber Rusia terhadap anggota NATO meningkat 25 persen dalam setahun terakhir. Sekitar 20 persen di antaranya menargetkan Amerika Serikat, 12 persen Inggris, dan 6 persen Jerman. Operasi ini disebut dirancang untuk menguji ketahanan sistem keamanan Barat serta memecah konsensus politik di Eropa.

Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Giuseppe Cavo Dragone, menegaskan aliansi tetap solid menghadapi tekanan. “Aliansi ini dapat diandalkan, kokoh, dan persatuan menjadi kekuatan utama kami,” ujarnya dalam wawancara dengan BBC.

Sementara para pejabat NATO menegaskan postur pertahanan tetap bersifat defensif, kesiapan tinggi dan langkah pencegahan kini menjadi fokus utama aliansi di tengah eskalasi aktivitas Rusia di kawasan.