![]() |
| Danantara memastikan finalisasi pendanaan untuk PT Krakatau Steel (Persero) Tbk setelah permohonan modal kerja US$500 juta diajukan sejak Juni 2025. (Krakatau Steel) |
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memastikan akan menyalurkan modal kerja kepada PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dalam waktu dekat. Konfirmasi ini disampaikan dalam media briefing di Jakarta, Jumat (14/11/2025), seiring proses finalisasi pendanaan yang disebut telah memasuki tahap akhir.
Managing Director Danantara Asset Management, Febriany Eddy, mengatakan besaran dana masih dalam tahap validasi internal. Namun, ia memastikan pendanaan difokuskan untuk menopang operasional inti produsen baja pelat merah tersebut.
“Kalau dilihat kondisi keuangan Krakatau Steel saat ini tidak baik. Mereka minta dukungan dana dari Danantara dalam bentuk modal kerja. Jumlah segala macam masih divalidasi, tapi dalam waktu dekat ini sudah tahap final,” ujar Febriany.
Permohonan pendanaan yang diajukan Krakatau Steel sebelumnya mencapai US$500 juta atau sekitar Rp8,3 triliun. Proposal tersebut disampaikan sejak Juni 2025 dengan target pencairan sebelum akhir Desember tahun ini.
Tekanan keuangan meningkat
Kinerja keuangan Krakatau Steel menunjukkan tekanan likuiditas yang cukup serius. Berdasarkan laporan per 30 September 2025, posisi modal kerja perusahaan tercatat negatif hingga Rp25 triliun. Kas yang tersedia hanya sekitar Rp1 triliun, sementara total liabilitas mencapai Rp23,7 triliun.
Febriany menyebutkan beban investasi blast furnace yang gagal dan kebakaran fasilitas Hot Strip Mill 1 pada 2024 membuat kondisi finansial perusahaan semakin berat.
“Akhirnya mereka kehilangan creditworthiness. Jadi mereka tidak bisa meminjam uang seperti perusahaan lainnya. Bahkan untuk modal kerja pun tidak ada,” katanya.
Imbas kondisi tersebut, Krakatau Steel harus mengandalkan pembiayaan dari pihak ketiga dengan bunga tinggi hingga 20 persen. Situasi ini membuat operasional hanya berjalan di sekitar sepertiga kapasitas produksi ideal.
Kinerja berbalik untung
Meski tertekan secara keuangan, Krakatau Steel melaporkan tren pemulihan kinerja pada kuartal III/2025. Emiten berkode KRAS ini membukukan laba bersih US$22,17 juta, berbanding terbalik dari rugi US$185,22 juta pada periode yang sama di 2024. Pendapatan usaha mencapai US$706,08 juta, tumbuh 7,39 persen secara tahunan.
Pembalikan kinerja didorong pos laba dari penyelesaian kewajiban percepatan pembayaran restrukturisasi utang senilai US$156,74 juta. Selain itu, perusahaan juga mulai kembali mengoperasikan fasilitas Hot Strip Mill yang sempat terhenti pascakebakaran.
Febriany menilai, Krakatau Steel masih memiliki prospek daya saing jika operasional kembali normal. Lokasi fasilitas yang terintegrasi dengan pelabuhan, jalur kereta, dan akses tol dinilai menjadi faktor pendukung pemulihan bisnis.
“Dari hitungan kita, dia bisa bersaing. Kita ingin menghidupkan dan menjayakan kembali Krakatau Steel,” ucapnya.
Bagian dari agenda pemulihan BUMN Industri
Dukungan modal kepada Krakatau Steel disebut menjadi bagian agenda Danantara untuk menghidupkan kembali basis industri dan manufaktur nasional.
Sebelumnya, lembaga investasi negara ini telah mengucurkan dana Rp23,67 triliun kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk melalui skema private placement.
Hingga saat ini, manajemen Krakatau Steel belum memberikan pernyataan tambahan terkait finalisasi pencairan maupun penjadwalan rinci penyaluran modal kerja tersebut.

0Komentar