![]() |
| Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin berjabat tangan di Beijing. (REUTERS) |
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin berjanji untuk memberikan “respons yang tepat terhadap tantangan eksternal” dalam pertemuan di Beijing, Senin (4/11). Pertemuan itu menandai langkah baru dalam mempererat hubungan kedua negara di tengah tekanan sanksi dan ketegangan geopolitik akibat perang Ukraina yang masih berlangsung.
Pertemuan berlangsung di Great Hall of the People, sehari setelah Mishustin mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang di Hangzhou.
Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan ekonomi dan mempertahankan kepentingan keamanan bersama meskipun menghadapi apa yang disebut Xi sebagai "kondisi eksternal yang bergejolak.”
Xi menyatakan bahwa hubungan China–Rusia tetap berjalan pada jalur pengembangan tingkat lebih tinggi dan kualitas lebih tinggi meski dihadapkan pada tekanan global. Ia menyebut kerja sama di sektor energi, pertanian, kedirgantaraan, ekonomi digital, dan pembangunan hijau sebagai area prioritas.
“Pemeliharaan hubungan ini merupakan pilihan strategis bagi kedua belah pihak,” kata Xi dalam pernyataan yang dikutip dari situs resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Kunjungan Mishustin terjadi ketika perdagangan bilateral kedua negara mencatat penurunan pertama sejak 2022. Data resmi menunjukkan nilai perdagangan turun 9,4 persen secara tahunan menjadi 163,62 miliar dolar AS dalam sembilan bulan pertama 2025.
Rusia, yang tengah menghadapi sanksi Barat berkepanjangan, berupaya menjaga kestabilan hubungan dagang dengan mitra terbesarnya itu.
Hasil pertemuan di Beijing mencakup penandatanganan 15 kesepakatan baru dan penerbitan komunike bersama yang menegaskan rencana memperkuat kerja sama lintas sektor.
Dalam dokumen tersebut, Rusia kembali menyatakan dukungan terhadap prinsip “Satu-China” terkait Taiwan, sementara Beijing menegaskan dukungannya terhadap upaya Moskwa dalam menjaga keamanan dan stabilitas nasional, sebagaimana dilaporkan RT dan FMPRC.
Dorongan diplomatik itu berlangsung di tengah meningkatnya tekanan sanksi ekonomi. Menurut laporan Bloomberg yang dikutip Kyiv Independent, sejumlah perusahaan minyak negara China mulai menangguhkan pembelian minyak mentah Rusia setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Rosneft dan Lukoil pada Oktober lalu. Langkah itu berdampak pada sekitar 400.000 barel per hari, atau 45 persen dari total impor minyak Rusia ke China.
Dalam pertemuan tersebut, Mishustin menekankan pentingnya menciptakan kondisi yang kondusif bagi investasi bersama. Ia menyebut sekitar 80 proyek besar senilai lebih dari 200 miliar dolar AS kini sedang berjalan antara kedua negara.
“Penyelesaian perdagangan bilateral kini dilakukan 99,1 persen menggunakan mata uang nasional. Penggunaan dolar dan euro tinggal pada tingkat kesalahan statistik,” ujarnya seperti dikutip The Moscow Times.
Xi dan Mishustin sepakat untuk terus memperkuat koordinasi strategis dan menjaga stabilitas rantai pasok di tengah dinamika global yang tidak menentu. Kesepakatan baru itu menjadi sinyal kuat bahwa Beijing dan Moskwa berupaya mempertahankan kemitraan erat mereka meski tekanan dari negara-negara Barat semakin intens.

0Komentar