China menghentikan seluruh impor makanan laut dari Jepang pada Rabu (19/11), langkah yang disampaikan kepada Tokyo hanya beberapa bulan setelah kedua negara sepakat melakukan pelonggaran terbatas.
Kebijakan ini diberlakukan di tengah memburuknya hubungan kedua negara menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait kemungkinan penggunaan hak collective self-defense jika China menyerang Taiwan.
Keputusan tersebut muncul kurang dari dua pekan setelah Jepang mengirimkan kembali produk makanan laut pertamanya ke China sejak Beijing mencabut sebagian pembatasan pada Juni 2025.
Media pemerintah China mengutip perlunya "pemantauan tambahan" terhadap pelepasan air limbah yang telah diolah dari PLTN Fukushima, menurut laporan Kyodo News. Namun, waktunya bertepatan dengan perselisihan yang memanas terkait Taiwan.
Larangan impor menjadi dampak ekonomi paling nyata dari memburuknya hubungan dua ekonomi terbesar Asia itu. Ketegangan memuncak setelah Takaichi pada 7 November mengatakan kepada parlemen bahwa blokade laut atau serangan China terhadap Taiwan dapat digolongkan sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup”, sebuah kondisi yang memungkinkan Jepang menggunakan hak pembelaan diri kolektifnya sesuai undang-undang pertahanan negara tersebut. Ia menolak tekanan Beijing agar menarik pernyataannya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyebut Perdana Menteri Li Qiang tidak memiliki agenda pertemuan dengan Takaichi pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Afrika Selatan akhir pekan ini.
Sementara itu, Kedutaan Besar Jepang di Beijing meminta warganya meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya komentar bernada permusuhan di media pemerintah China.
Reuters melaporkan bahwa pemerintah China juga mengimbau warganya untuk menunda perjalanan ke Jepang. Seruan itu memicu tekanan pada saham sektor pariwisata Jepang, yang sepanjang pekan ini turun signifikan.
Sebelum Beijing memberlakukan larangan menyeluruh pada 2023, China menjadi pasar terbesar bagi makanan laut Jepang dan menyerap sekitar 30% ekspor, dengan kerang scallop sebagai komoditas utama.
Data Kementerian Pertanian Jepang yang dikutip Japan News menunjukkan ekspor makanan laut ke China anjlok 57% pada tahun fiskal 2023, mendorong pelaku industri mencari pasar alternatif.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat Amerika Serikat kini menjadi tujuan utama ekspor makanan laut Jepang sejak pembatasan China diberlakukan. Pergeseran arus perdagangan terus berlangsung di tengah berlanjutnya ketegangan politik antara Beijing dan Tokyo.
Dalam pernyataannya, seorang pejabat kementerian Jepang yang tak disebutkan namanya mengatakan pemerintah “masih mempelajari langkah balasan yang mungkin diperlukan” sambil terus melakukan komunikasi dengan otoritas China.
Di sisi lain, media pemerintah China menyebut Jepang “bertanggung jawab atas memburuknya hubungan bilateral” dan menilai pernyataan Takaichi sebagai bentuk provokasi politik yang tidak dapat diterima.
Krisis diplomatik ini diperkirakan terus menjadi sorotan menjelang pertemuan internasional penting dalam beberapa pekan ke depan, sementara dampaknya terhadap perdagangan, mobilitas warga, dan sektor pariwisata kedua negara mulai terasa.

0Komentar