BPS mencatat tingkat pengangguran nasional turun menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) turut meningkat ke 75,90, mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia pada Agustus 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional turun menjadi 4,85 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat ke posisi 75,90.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menjelaskan jumlah pengangguran pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang, turun 4.092 orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

“TPT pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Edy dalam konferensi pers BPS, Selasa (5/11).

Penurunan angka pengangguran terjadi di hampir seluruh kelompok, baik laki-laki maupun perempuan, serta di wilayah perkotaan dan pedesaan. 

Meski demikian, BPS mencatat jumlah pekerja paruh waktu meningkat 1,66 juta orang dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam peningkatan kualitas pekerjaan di tengah pemulihan ekonomi.

Tren positif ketenagakerjaan ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di atas 5 persen sepanjang 2025. Pemerintah juga gencar mendorong penciptaan lapangan kerja melalui program hilirisasi industri dan peningkatan investasi padat karya di sektor manufaktur serta pertanian.

Secara historis, tingkat pengangguran nasional telah menurun signifikan dalam lima tahun terakhir, dari 6,26 persen pada 2020 menjadi 4,85 persen pada 2025. Penurunan tersebut mencerminkan pemulihan pasar tenaga kerja pascapandemi COVID-19.

Secara regional, Sumatera Utara mencatat TPT sebesar 5,32 persen, menurun 0,28 persen poin dibandingkan Agustus 2024. Penurunan juga terjadi di sejumlah provinsi lain, seiring peningkatan lapangan kerja di sektor pertanian, industri pengolahan, dan jasa.

Di sisi lain, BPS juga melaporkan peningkatan IPM nasional menjadi 75,90, naik 0,88 poin dari tahun sebelumnya yang sebesar 75,02. Kenaikan ini dipicu oleh perbaikan di seluruh komponen pembangunan manusia, termasuk umur harapan hidup yang meningkat menjadi 74,47 tahun serta pengeluaran riil per kapita yang naik 461 ribu rupiah.

Kepala BPS Sulawesi Utara, Aidil Adha, menyebut provinsinya mencatat IPM sebesar 76,32, naik 0,64 poin dibandingkan 2024. 

“Selama 2020–2025, IPM Sulawesi Utara rata-rata meningkat 0,71 persen per tahun,” kata Aidil dikutip dari Antara News.

Kepala BPS Margo Yuwono menilai, peningkatan IPM menjadi sinyal positif dari membaiknya akses pendidikan dan kesehatan. 

“Kualitas manusia terus meningkat seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

DKI Jakarta tetap menjadi daerah dengan IPM tertinggi di Indonesia, yakni 85,05, disusul DI Yogyakarta (82,48) dan Kepulauan Riau (80,53). Sebaliknya, Papua Pegunungan masih mencatat IPM terendah secara nasional.

Meski rata-rata IPM meningkat, kesenjangan antarwilayah masih terlihat. Provinsi dengan IPM rendah seperti Papua Pegunungan dan Nusa Tenggara Timur masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur dasar.