Hanya beberapa hari setelah merayakan 25 tahun kehadiran manusia tanpa henti di orbit, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) kini bersiap memasuki fase akhir sebelum dijatuhkan secara terkendali ke Samudra Pasifik pada 2030.
NASA bersama mitra internasionalnya menunjuk SpaceX untuk menjalankan misi deorbit kompleks yang akan mengakhiri salah satu proyek kolaborasi sains terbesar dalam sejarah modern.
NASA telah mengontrak SpaceX senilai US$843 juta untuk mengembangkan varian khusus pesawat antariksa Dragon, yang akan berfungsi sebagai kendaraan deorbit bagi ISS.
Menurut keterangan NASA, pesawat itu akan dilengkapi 46 pendorong Draco, tiga kali lebih banyak dari sistem standar serta tangki bahan bakar enam kali lebih besar untuk mengarahkan struktur seberat 460 ton menuju titik jatuh yang aman.
“Hal paling menantang adalah memastikan pembakaran pendorong cukup kuat untuk menurunkan seluruh stasiun, sambil menjaga stabilitas terhadap torsi dan gaya atmosfer,” ujar Sarah Walker, Direktur Manajemen Misi Dragon di SpaceX, dikutip dari laman resmi NASA.
Pesawat deorbit ini dijadwalkan berlabuh dengan ISS pada 2030 dan tetap terpasang selama sekitar 18 bulan seiring peluruhan alami orbit stasiun. Enam bulan sebelum masuk kembali ke atmosfer, kru terakhir akan dievakuasi sepenuhnya. Kendaraan otomatis tersebut kemudian akan mengeksekusi manuver presisi untuk memastikan ISS jatuh di lokasi yang paling aman, yaitu Point Nemo, wilayah laut paling terpencil di dunia.
Terletak di koordinat 48°52,6′LS dan 123°23,6′BB, Point Nemo berada lebih dari 2.600 kilometer dari daratan terdekat di Samudra Pasifik Selatan. Kawasan ini dikenal sebagai “kuburan pesawat luar angkasa”, tempat lebih dari 260 benda antariksa termasuk stasiun luar angkasa Mir milik Rusia pada 2001 ditenggelamkan sejak 1970-an.
Sebagian besar struktur ISS diperkirakan akan terbakar saat masuk kembali ke atmosfer, namun sejumlah bagian padat seperti rangka utama akan jatuh di perairan tanpa penghuni.
“Lokasi ini dipilih karena isolasinya ekstrem, memastikan tidak ada risiko bagi manusia atau aktivitas pelayaran,” tulis laporan NASA Transition Plan.
Pensiunnya ISS menjadi penanda transisi besar dalam eksplorasi ruang angkasa. Setelah lebih dari dua dekade beroperasi dan menampung lebih dari 280 astronot dari 26 negara, NASA kini mengalihkan fokus pada stasiun luar angkasa komersial.
Beberapa perusahaan seperti Vast Space tengah mengembangkan fasilitas orbit komersial, termasuk Haven-1 yang dijadwalkan meluncur pada Mei 2026 dan berpotensi menjadi stasiun luar angkasa komersial pertama di dunia.
Langkah ini disebut sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan kehadiran manusia di luar angkasa setelah era ISS berakhir.
“ISS telah membuktikan bahwa kerja sama global bisa bertahan di luar batas geopolitik Bumi,” ujar NASA Administrator Bill Nelson dalam pernyataan resminya. “Kini, kami membuka bab baru menuju masa depan orbit rendah yang dikelola secara komersial.”

0Komentar