Sumber: Wikipedia, konten dilisensikan di bawah CC BY-SA 4.0.

Komisi Eropa pada Selasa (4/11/2025) merilis Laporan Paket Perluasan Tahunan 2025 yang menilai kemajuan negara-negara kandidat menuju keanggotaan Uni Eropa (UE). Dalam laporan itu, Ukraina mendapat penilaian paling positif sejak invasi Rusia berlangsung, sementara Montenegro disebut sebagai negara kandidat paling maju.

Laporan yang dipublikasikan di Brussel itu menyebut Ukraina menunjukkan ketahanan luar biasa dan komitmen luar biasa terhadap proses aksesi meski masih berada dalam situasi perang. 

Komisi memastikan Kyiv siap membuka tiga klaster negosiasi kunci Klaster 1, 2, dan 6 yang mencakup isu fundamental seperti hukum, ekonomi, dan hubungan kelembagaan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut hasil tersebut dengan menyebutnya sebagai “penilaian terbaik hingga saat ini”. 

“Bukti bahwa bahkan saat kami mempertahankan diri dari agresi skala penuh Rusia, Ukraina terus melakukan reformasi dan transformasi sesuai dengan standar Eropa,” tulis Zelenskyy di platform X, dikutip dari situs resmi kepresidenan Ukraina.

Meski demikian, Komisi memberi catatan tajam terhadap sektor antikorupsi Ukraina. Lembaga itu menyoroti tren negatif baru-baru ini, termasuk tekanan pada lembaga antikorupsi khusus dan menekankan perlunya percepatan reformasi supremasi hukum agar target penyelesaian negosiasi pada akhir 2028 bisa tercapai.

Di sisi lain, Montenegro menjadi sorotan positif. Komisioner Perluasan UE Marta Kos menyebut negara Balkan itu sebagai kandidat paling maju di antara semua calon anggota. Montenegro menutup empat bab negosiasi selama setahun terakhir dan menargetkan penyelesaian pembicaraan keanggotaan pada 2026. 

“Montenegro berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan ambisius ini,” kata Kos dalam keterangan resminya yang dikutip dari Reuters.

Albania juga mencatat kemajuan signifikan dan disebut “sangat siap” membuka klaster terakhir pada akhir tahun. Namun, laporan tersebut memberikan teguran keras kepada Georgia, yang dinilai mengalami kemunduran demokrasi. 

“Anda tidak membawa rakyat Anda ke UE, Anda membawa rakyat Anda menjauh dari UE,” ujar Kos menanggapi situasi politik di Tbilisi, seperti dilaporkan Civil Georgia.

Komisi menilai Georgia kini berstatus “negara kandidat hanya dalam nama” setelah pembicaraan aksesi ditunda hingga 2028 akibat tindakan keras terhadap oposisi dan masyarakat sipil. Serbia turut dikritik karena penurunan kebebasan berekspresi dan erosi otonomi akademik, dengan Komisi mendesak Beograd segera membalikkan tren negatif tersebut.

“Secara keseluruhan, tahun 2025 adalah tahun kemajuan signifikan bagi perluasan UE,” ujar Kos dalam konferensi pers di Brussel, seperti dikutip dari EEAS. 

Ia menegaskan bahwa meski Montenegro, Albania, Ukraina, dan Moldova dinilai paling maju dalam reformasi, proses aksesi tetap berbasis pada merit tanpa jalan pintas.