![]() |
| Lockheed Martin F-35 untuk Angkatan Udara Jerman | Wikimedia Commons. Lisensi: CC BY-SA 4.0. |
Presiden Donald Trump diperkirakan akan merampungkan kesepakatan penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi saat kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman ke Gedung Putih pada Selasa pekan depan. Informasi ini dilaporkan Bloomberg pada Jumat (14/11), mengutip seorang pejabat Gedung Putih yang mengetahui pembahasan tersebut.
Kesepakatan itu berpotensi menjadikan Arab Saudi sebagai negara Arab pertama selain Israel yang mengoperasikan pesawat tempur generasi kelima tersebut.
Riyadh diketahui telah mengajukan permintaan hingga 48 unit F-35 buatan Lockheed Martin, dengan nilai total mencapai miliaran dolar. Proses peninjauan awal di Pentagon disebut telah rampung, menurut sumber yang dikutip sejumlah media termasuk The National Interest dan Aerotime.
Kekhawatiran keamanan
Di tengah pembahasan, laporan rahasia Defense Intelligence Agency (DIA) memperingatkan risiko bahwa China dapat memperoleh akses terhadap teknologi sensitif F-35 apabila penjualan kepada Saudi disetujui.
The New York Times dan Army Recognition melaporkan bahwa penilaian intelijen tersebut menyebut adanya potensi kebocoran teknologi stealth dan sistem perang elektronik melalui spionase atau kerja sama pertahanan Saudi-China yang semakin erat.
Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir memperluas kolaborasi militernya dengan Beijing, termasuk latihan militer bersama serta pembelian drone dan sistem rudal buatan China.
Kekhawatiran serupa juga diarahkan pada penggunaan infrastruktur teknologi Huawei di Saudi yang dinilai dapat menciptakan celah keamanan bagi sistem F-35.
Respons Israel
Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menyebut pihaknya sejauh ini belum melihat indikasi bahwa dominasi militer Israel di kawasan akan terganggu oleh kemungkinan akuisisi Arab Saudi.
“Tidak ada indikasi bahwa keunggulan kualitatif Israel akan dikompromikan,” ujar Leiter dalam wawancara yang dilaporkan Jewish Insider dan Jerusalem Post. Israel saat ini menjadi satu-satunya operator F-35 di Timur Tengah.
Bagian dari paket perjanjian lebih luas
Pertemuan Trump dan bin Salman dijadwalkan membahas paket investasi dan pertahanan yang lebih luas, termasuk kemungkinan impor Liquefied Natural Gas (LNG), akses Saudi terhadap chip kecerdasan buatan, serta teknologi nuklir sipil. Pembahasan ini terkait paket kerja sama senilai US$142 miliar yang diumumkan selama kunjungan Trump ke Riyadh pada Mei lalu, dikutip Reuters dan Al Jazeera.
Riyadh juga disebut sedang mencari pakta pertahanan bilateral yang mirip dengan perintah eksekutif yang diberikan Trump kepada Qatar pada September, yang menyatakan serangan terhadap Qatar sebagai ancaman terhadap keamanan AS.
Meski kedua pihak optimistis, normalisasi hubungan Arab Saudi dan Israel dinilai belum akan diumumkan dalam pertemuan mendatang. Reuters dan Axios melaporkan bahwa Riyadh tetap berpegang pada syarat pembentukan negara Palestina sebagai prasyarat kesepakatan diplomatik.
Harga satu unit F-35 saat ini diperkirakan mencapai sekitar US$100 juta berdasarkan kontrak terbaru mesin pesawat tersebut.

0Komentar