Para pemimpin Uni Eropa menggelar KTT di Brussels untuk membahas sanksi ke-19 terhadap Rusia dan rencana menggunakan €140 miliar aset Rusia yang dibekukan guna mendanai pinjaman bagi Ukraina. (Tangkapan Layar Video Reuters)

Para pemimpin Uni Eropa (UE) berkumpul di Brussels, Kamis (23/10), untuk merampungkan paket sanksi terbaru terhadap Rusia dan membahas rencana ambisius mengubah sekitar €140 miliar (setara US$225 miliar) aset Rusia yang dibekukan menjadi pinjaman bagi Ukraina. 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky turut hadir dalam pertemuan tersebut untuk memastikan dukungan Eropa tetap solid di tengah perubahan kebijakan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

Presiden Dewan Uni Eropa António Costa, yang memimpin KTT satu hari itu, menegaskan komitmen Eropa untuk terus menekan Moskwa sambil menjaga bantuan bagi Kyiv. 

“Baik dukungan untuk Ukraina maupun tekanan terhadap Rusia tetap menjadi dua syarat penting untuk mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya di sela pertemuan.


Rencana gunakan aset beku Rusia

Inti pembahasan dalam KTT kali ini adalah rencana memanfaatkan dana sekitar €140 miliar milik bank sentral Rusia yang dibekukan sejak awal invasi pada 2022. Sebagian besar aset itu tersimpan di lembaga penyimpanan sekuritas Euroclear di Belgia. Dana tersebut akan dijadikan jaminan untuk menyalurkan apa yang disebut “pinjaman reparasi” bagi Ukraina.

Berdasarkan skema yang diusulkan, Ukraina tidak diwajibkan mengembalikan dana pinjaman tersebut hingga Rusia membayar kompensasi perang. Dengan kata lain, dana itu berfungsi seperti hibah jangka panjang yang memungkinkan Kyiv membiayai kebutuhan militernya tanpa beban langsung pada anggaran negara.

Para pejabat Eropa menyebut kebutuhan anggaran dan militer Ukraina untuk dua tahun ke depan mencapai sekitar US$153 miliar. Karena itu, pembiayaan dari aset beku Rusia dianggap krusial untuk mempertahankan pertahanan negara tersebut di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.


Paket sanksi ke-19

Selain membahas soal pendanaan, para pemimpin UE juga mengesahkan paket sanksi ke-19 terhadap Rusia. Langkah baru ini mencakup larangan impor gas alam cair (LNG) dari Rusia mulai Januari 2027 serta pembatasan terhadap 117 kapal tambahan dari “armada bayangan” yang digunakan Moskwa untuk menghindari embargo energi.

Paket tersebut sebelumnya sempat tertahan akibat veto dari Slovakia. Namun, Bratislava akhirnya mencabut keberatannya setelah memperoleh komitmen dari Komisi Eropa untuk membantu menstabilkan harga energi dan menyelaraskan kebijakan iklim dengan kebutuhan industri dalam negeri.

Sanksi baru juga menargetkan perusahaan minyak besar Rusia seperti Rosneft dan Lukoil. Selain itu, UE membekukan aset entitas yang masuk daftar hitam serta memperketat aturan perjalanan bagi diplomat Rusia di kawasan Schengen yang bebas paspor.


Zelensky cari dukungan Eropa

Kehadiran Presiden Zelensky di Brussels menjadi bagian dari upayanya menjaga kesinambungan bantuan luar negeri bagi Ukraina, terutama setelah Washington menunjukkan tanda-tanda perubahan arah kebijakan. 

Pekan lalu, Presiden Trump menunda pertemuan yang semula dijadwalkan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan alasan pertemuan itu “akan menjadi buang-buang waktu”.

Langkah tersebut menimbulkan kekhawatiran di Eropa bahwa dukungan Amerika terhadap Kyiv bisa berkurang, sehingga mendorong Uni Eropa mengambil posisi lebih tegas dalam pembiayaan dan pertahanan regional.

Selain membahas sanksi dan pendanaan, KTT ini juga diisi dengan pembahasan mengenai peta jalan pertahanan Eropa menuju 2030. Dokumen itu disiapkan untuk memperkuat kemampuan militer negara-negara anggota dan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan luar benua.

Menurut sejumlah pejabat Eropa, ancaman Rusia terhadap wilayah Eropa diperkirakan bisa kembali meningkat dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Karena itu, penguatan pertahanan menjadi salah satu prioritas utama dalam kebijakan luar negeri blok tersebut.