![]() |
| Likuiditas perekonomian nasional melonjak pada September 2025. Bank Indonesia mencatat uang beredar (M2) tembus Rp9.771,3 triliun, tertinggi sejak 2023. (Dok. KabarBursa) |
Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp9.771,3 triliun pada September 2025. Angka itu naik 8% secara tahunan (year-on-year) dan menjadi lonjakan tertinggi sejak Februari 2023.
Lonjakan ini dipicu oleh penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sektor perbankan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penempatan dana SAL di lima bank milik negara menjadi faktor utama yang mengerek jumlah uang beredar.
“Kebijakan moneter longgar dan penempatan dana SAL pemerintah di perbankan mendorong kenaikan jumlah uang beredar,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Oktober 2025 di Jakarta.
Dampak kebijakan itu langsung terasa pada pertumbuhan uang primer (M0) yang sudah disesuaikan dengan insentif likuiditas makroprudensial, mencapai 18,58% secara tahunan pada September 2025. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan M0 tanpa penyesuaian yang tumbuh 13,16%.
Kenaikan juga terlihat pada komponen lain. Uang beredar sempit (M1) naik 10,7%, sementara uang kuasi tumbuh 6,2%. Aktiva luar negeri bersih turut menambah tekanan likuiditas dengan pertumbuhan 12,6%, meningkat dari 10,7% pada Agustus 2025.
Selain dari pusat, aliran dana pemerintah daerah juga menambah tumpukan likuiditas di perbankan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dana milik pemerintah daerah yang mengendap di bank mencapai Rp234 triliun per September 2025, naik dari periode sebelumnya.
“Rendahnya serapan tersebut berakibat menambah simpanan uang pemda yang nganggur di bank sampai Rp234 triliun. Jadi jelas ini bukan soal uangnya tidak ada, tapi soal kecepatan eksekusi,” kata Purbaya dalam rapat evaluasi APBD di Jakarta.
Data Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja APBD hingga kuartal III 2025 baru mencapai Rp712,8 triliun atau 51,3% dari pagu Rp1.389,3 triliun. Rendahnya serapan ini membuat likuiditas perbankan meningkat, tetapi di sisi lain memperlambat perputaran ekonomi di daerah.
Di sisi kebijakan moneter, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2025. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan inflasi yang masih berada dalam target 2,5±1%.
Perry menegaskan, bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga ke depan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kami akan tetap menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Ruang pelonggaran moneter masih terbuka tergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi global,” ujarnya.
Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 berada di kisaran 5,0–5,1%, ditopang oleh ekspor yang masih kuat serta dorongan belanja pemerintah.
Dengan tambahan dana SAL di perbankan, BI memperkirakan jumlah uang beredar akan terus meningkat sejalan dengan ekspansi kebijakan fiskal yang lebih agresif menjelang akhir tahun.
Bank Indonesia menilai kondisi likuiditas yang longgar akan mendukung pembiayaan sektor riil, terutama konsumsi dan investasi. Namun, otoritas moneter juga tetap waspada terhadap potensi tekanan inflasi akibat peningkatan jumlah uang beredar yang terlalu cepat.

0Komentar