![]() |
| Presiden AS Donald Trump menjadi mediator gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja di KTT ASEAN Kuala Lumpur, sekaligus teken pakta dagang besar dengan Malaysia. (AP/Mark Schiefelbein) |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkuat perannya di panggung diplomasi Asia Tenggara pada Minggu (26/10), dengan mengawasi penandatanganan perjanjian gencatan senjata yang diperluas antara Thailand dan Kamboja serta menyelesaikan pakta perdagangan besar dengan Malaysia di sela-sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur.
Langkah ganda itu disebut sebagai capaian diplomatik paling menonjol Trump sejak memulai tur sepekan di Asia, yang juga mencakup pertemuan dengan para pemimpin Jepang dan Korea Selatan, sebelum berujung pada pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping.
Gencatan senjata Thailand–Kamboja
Dalam sesi pagi waktu setempat, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menandatangani perjanjian gencatan senjata baru yang dibangun di atas kesepakatan yang dimediasi Trump pada Juli lalu.
Saat itu, ancaman tekanan ekonomi dari Washington berhasil menghentikan lima hari pertempuran perbatasan yang menewaskan sedikitnya 48 orang dan memaksa lebih dari 300.000 warga mengungsi — konflik paling parah antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami mencapai sesuatu yang banyak orang pikir mustahil,” ujar Trump dalam konferensi pers bersama usai penandatanganan. Ia turut mendampingi penandatanganan perjanjian itu bersama Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Hun Manet menyebut kesepakatan itu sebagai “hari bersejarah,” sementara Anutin menilai perjanjian tersebut menciptakan “fondasi bagi perdamaian yang berkelanjutan” di kawasan perbatasan.
Tahap pertama gencatan senjata mencakup pembebasan 18 tentara Kamboja yang sebelumnya ditahan, serta penarikan persenjataan berat dari zona perbatasan oleh Thailand.
Pasukan Malaysia ditugaskan memantau kepatuhan dan mencegah bentrokan ulang, sementara pengamat ASEAN akan mengawasi implementasinya.
Trump menyinggung lambannya respons lembaga internasional terhadap konflik itu.
“Perserikatan Bangsa-Bangsa seharusnya melakukan ini, tapi mereka tidak. Kami hanya membuat kesepakatan dan mengumumkannya,” katanya di hadapan wartawan.
Pakta dagang besar AS–Malaysia
Selain memediasi perdamaian, Trump juga menandatangani perjanjian perdagangan komprehensif dengan Malaysia, yang disebut Gedung Putih sebagai “kesepakatan ekonomi terbesar AS di Asia Tenggara tahun ini.”
Pakta tersebut memberi akses pasar yang lebih luas bagi eksportir kedua negara. Malaysia setuju membuka jalur preferensial untuk barang industri Amerika seperti bahan kimia, mesin, logam, kendaraan penumpang, serta produk pertanian seperti susu, unggas, dan beras.
Sebagai imbalannya, AS mempertahankan tarif resiprokal 19% terhadap barang Malaysia, dengan sejumlah produk strategis mendapatkan tarif nol di bawah mekanisme mitra selaras.
Nilai total kesepakatan dagang ini mencapai ratusan miliar dolar AS, mencakup pembelian 30 pesawat baru oleh Malaysia dengan opsi tambahan 30 unit serta peralatan semikonduktor dan pusat data senilai US$150 miliar. Amerika Serikat juga menjanjikan investasi langsung sebesar US$70 miliar di sektor energi dan manufaktur Malaysia.
“Sangat penting bagi kita untuk bekerja sebagai mitra yang saling bersedia, memastikan rantai pasokan yang aman dan lancar,” kata Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dalam keterangannya.
Pemerintah Malaysia, di sisi lain, berkomitmen tidak akan membatasi ekspor mineral kritis dan unsur tanah jarang ke AS — langkah yang dinilai penting bagi keamanan rantai pasokan Amerika di tengah ketegangan dagang dengan China.
Agenda diplomasi Trump usai KTT ASEAN
Keterlibatan Trump di Asia Tenggara datang di tengah meningkatnya tensi perdagangan antara Washington dan Beijing. Trump sebelumnya mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100% terhadap impor asal China jika Beijing terus memperketat kontrol ekspor mineral strategis.
Ketentuan soal mineral dalam kesepakatan dengan Malaysia dipandang sebagai upaya nyata AS mengurangi ketergantungan pasokan dari China.
Sebelum meninggalkan Kuala Lumpur menuju Tokyo, Trump sempat menyampaikan optimismenya soal pertemuan mendatang dengan Xi Jinping.
“Saya rasa ada peluang yang sangat baik untuk mencapai kesepakatan komprehensif dengan China,” ujarnya di atas pesawat Air Force One.
Tur Asia Trump dijadwalkan berlanjut dengan kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan, sebelum bertolak ke Beijing untuk pembicaraan yang akan menentukan arah hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia itu.

0Komentar