Danantara memperkuat tim investasi globalnya dengan merekrut dua mantan profesional GIC Singapura, Daniel Lim dan Weihan Wong. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Indonesia’s sovereign wealth fund, Danantara, memperkuat barisan tim investasi globalnya dengan merekrut dua mantan profesional dari Government Investment Corporation (GIC) Singapura, Daniel Lim dan Weihan Wong, sebagai Investment Directors. Kedua tokoh ini mulai aktif sejak Oktober 2025 dan akan memimpin operasi pasar privat Danantara di bawah arahan Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director of Investments.

Lim akan fokus pada instrumen private credit, termasuk utang terstruktur dan hybrid, sementara Wong menangani private equity. Kedua direktur baru ini akan memulai strategi investasi dengan fokus pada pasar domestik Indonesia, sebelum mengembangkan portofolio ke pasar global.

“Kehadiran Daniel dan Weihan akan memperkuat kemampuan Danantara dalam mengelola investasi privat, khususnya di sektor strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Stefanus Ade Hadiwidjaja dalam keterangan resmi, Jumat (25/10).

Danantara didirikan pada Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto dengan target menjadi salah satu dana abadi terbesar dunia, menargetkan pengelolaan aset lebih dari US$900 miliar atau sekitar Rp14.000 triliun, menyaingi Saudi Arabia’s PIF dan GIC Singapura. Saat ini, dana ini mengelola aset dari tujuh BUMN besar, termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, Pertamina, PLN, Telkom, dan MIND ID.

Struktur kepemimpinan Danantara disebut sebagai “dream team” karena melibatkan tokoh-tokoh ternama seperti Jokowi, SBY, ekonom Jeffrey Sachs, investor Ray Dalio, dan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi investasi strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8% melalui sektor energi hijau, manufaktur maju, hilirisasi, dan pangan.

Meski ambisius, Danantara menghadapi sorotan terkait transparansi dan tata kelola. Salah satu isu yang mencuat adalah penerbitan “Patriot Bonds” dengan imbal hasil 2%, jauh di bawah rata-rata pasar. Beberapa pengusaha dan taipan lokal disebut tertarik untuk ikut berinvestasi, memicu spekulasi adanya tekanan politik.

Menanggapi hal ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, “Danantara hadir untuk mendukung proyek-proyek strategis, termasuk energi ramah lingkungan. Semua kebijakan diambil dengan pertimbangan ekonomi dan nasional.”

Selain itu, pada Oktober 2025, Prabowo juga menginstruksikan Danantara untuk menyederhanakan jumlah BUMN dari sekitar 1.000 perusahaan menjadi 200 perusahaan, sebagai upaya meningkatkan efisiensi dan kinerja.

Dengan tambahan dua direktur baru dari GIC Singapura, Danantara diharapkan semakin kuat dalam merumuskan strategi investasi global, sambil menghadapi tantangan tata kelola dan transparansi yang menjadi sorotan publik.