Startup asal Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), Stellerus Technology, mengumumkan rencana ambisius untuk menjadi penyedia pertama di dunia yang menghadirkan data angin tiga dimensi (3D) melalui satelit. Proyek yang dinamai Konstelasi Feilian ini digadang bakal membawa perubahan besar bagi dunia prakiraan cuaca, energi terbarukan, hingga manajemen risiko iklim.
Dalam pernyataan resminya minggu ini, Stellerus menyebut akan meluncurkan dua satelit pertama dalam 18 bulan ke depan, sebelum menambah lima satelit lain untuk melengkapi konstelasi berisi enam satelit.
Nama Feilian diambil dari dewa angin dalam mitologi Tiongkok kuno, merepresentasikan visi perusahaan dalam memetakan angin secara global.
Ketua sekaligus salah satu pendiri Stellerus, Su Hui, menjelaskan bahwa dunia saat ini kekurangan data atmosfer terperinci untuk analisis meteorologi berskala besar.
“Ada kekurangan signifikan dari data semacam itu untuk observasi global. Beberapa lembaga, termasuk NASA, pernah mengusulkan proyek serupa, tapi belum ada yang terealisasi karena biayanya sangat tinggi,” ujar Su dalam wawancara dengan South China Morning Post (22/10/2025).
Perusahaan yang berdiri pada 2023 ini sebelumnya sudah mencatat prestasi di tingkat internasional. Pada September 2025, Stellerus meraih Penghargaan Platinum di ajang HKUST-SINO One Million Dollar Entrepreneurship Competition, mengalahkan 348 tim dari berbagai negara. Startup ini juga menyabet Sustainability Impact Award berkat inovasinya di bidang teknologi iklim.
Dalam pengembangannya, Stellerus mengandalkan keunggulan manufaktur di China agar proyek ini layak secara ekonomi. Su, yang sebelumnya menjabat sebagai ilmuwan utama dan manajer program cuaca di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, menyebut biaya pembuatan satelit di China jauh lebih rendah dibanding di Amerika Serikat.
“Di AS, satu satelit bisa menelan biaya sekitar US$100 juta. Di China, biaya itu hanya sekitar 20 juta yuan atau US$2,8 juta,” jelasnya. Menurut laporan Yahoo Finance, Stellerus telah mengantongi pendanaan puluhan juta dolar sejak awal berdiri.
Untuk memperkuat proyeknya, Stellerus bermitra dengan Chang Guang Satellite Technology, perusahaan satelit penginderaan jauh komersial pertama di China yang juga didukung pemerintah Provinsi Jilin. Perusahaan ini mengoperasikan 108 satelit di orbit, menjadikannya operator konstelasi komersial sub-meter terbesar di dunia.
Kemitraan ini bukan kali pertama bagi HKUST. Pada Agustus 2023, universitas tersebut meluncurkan satelit lingkungan Bumi pertama milik lembaga pendidikan tinggi di Hong Kong melalui kolaborasi dengan Chang Guang.
CEO Stellerus, David Liu, menuturkan bahwa data angin 3D yang dihasilkan Konstelasi Feilian punya nilai besar di berbagai sektor.
“Potensi aplikasinya luas mulai dari pengoptimalan rute penerbangan untuk menghemat bahan bakar dan menghindari turbulensi, hingga perencanaan rute pengiriman yang lebih efisien,” ujarnya.
Menurut Liu, perusahaan juga tengah bernegosiasi dengan pengembang ladang angin dan operator jaringan listrik milik negara yang berminat memanfaatkan data mereka. Dengan data yang lebih presisi, operator bisa meningkatkan efisiensi sekaligus menghemat biaya operasional.
Chief Technology Officer, Jeffrey Xu Mingyuan, menambahkan bahwa teknologi ini sangat berharga untuk operasi angin lepas pantai, di mana biaya pengumpulan data biasanya sangat tinggi.
“Untuk industri energi angin China yang terbesar di dunia, data kami bisa membantu operator menambah produksi listrik dan menghemat jutaan yuan yang biasanya habis untuk membangun menara pemantau angin,” jelas Xu.
Stellerus menggabungkan sensor optik berpresisi tinggi dengan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis dinamika atmosfer. Sistem ini mampu mendeteksi karbon dioksida, metana, dan uap air guna mengukur kecepatan serta arah angin dengan tingkat akurasi yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Teknologi ini berpotensi menempatkan Stellerus di garis depan pasar global yang terus tumbuh. Menurut laporan pasar yang dikutip dari SCMP, industri sistem radar cuaca 3D diperkirakan bernilai sekitar US$2,5 miliar pada 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 8% hingga 2033.
Dengan kombinasi teknologi canggih, efisiensi biaya, dan dukungan institusi riset besar seperti HKUST, proyek Konstelasi Feilian kini menjadi salah satu inisiatif satelit iklim paling ambisius di Asia.
Jika berjalan sesuai rencana, Stellerus akan menjadi pionir dalam penyediaan data angin global berbasis satelit pertama di dunia, membuka era baru bagi observasi atmosfer dan perencanaan energi global.

0Komentar