PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mencatat laba bersih US$20 juta hingga kuartal III 2025 dan menyetujui rights issue senilai Rp5,6 triliun dari Angkasa Pura Indonesia untuk memperkuat modal dan ekspansi bisnis MRO.

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menutup kuartal ketiga 2025 dengan kinerja yang menggembirakan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Jumat (24/10/2025), pemegang saham menyetujui rencana penambahan modal melalui rights issue, sekaligus menandai babak baru dalam restrukturisasi perusahaan perawatan pesawat tersebut.

Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menyampaikan, perusahaan berhasil mencatat pendapatan sekitar US$307,13 juta atau setara Rp5,09 triliun hingga September 2025. Angka ini melampaui target bulanan sebesar 100 persen dan naik tajam dibandingkan semester pertama yang tercatat US$178,95 juta.

“Lebih menggembirakan lagi, GMFI juga membukukan laba bersih mencapai US$20 juta atau Rp332,08 miliar hingga September 2025, hampir mendekati target akhir tahun sebesar US$27 juta,” ujar Andi dalam keterangan usai RUPSLB.

RUPSLB dihadiri pemegang saham yang mewakili 92,64 persen dari total saham beredar. Dalam rapat itu, disetujui penerbitan maksimal 124,27 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp25 per lembar. 

Melalui aksi korporasi ini, GMFI akan menerima penyetoran modal non-tunai (inbreng) dari PT Angkasa Pura Indonesia (API) berupa lahan seluas 972.123 meter persegi di kawasan Bandara Soekarno-Hatta senilai Rp5,66 triliun.

Andi menjelaskan, penyertaan lahan tersebut bukan sekadar langkah finansial, tetapi strategi memperkuat fondasi bisnis GMFI. 

“Aksi korporasi ini bukan sekadar langkah finansial, tetapi pondasi strategis agar GMFI dapat bergerak lebih lincah dan berkelanjutan,” katanya.

Lahan yang diserahkan API mencakup area operasional utama dari Hanggar 1 hingga Hanggar 4, yang menjadi tulang punggung kegiatan perawatan pesawat GMFI di Bandara Soekarno-Hatta. Aset ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kapasitas layanan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) perusahaan.

Dampak langsung dari transaksi tersebut adalah perbaikan besar pada posisi keuangan GMFI. Dari sebelumnya ekuitas minus US$248,99 juta, perusahaan kini diproyeksikan berbalik menjadi positif US$102,87 juta. Perubahan ini mengakhiri masa defisit yang sudah membebani laporan keuangan GMFI beberapa tahun terakhir.

Namun, aksi korporasi ini juga mengubah struktur kepemilikan saham. Setelah rights issue, Angkasa Pura Indonesia akan menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi 70 persen, sedangkan Garuda Indonesia yang sebelumnya memegang 66,96 persen saham akan turun menjadi 15,54 persen. Kendati begitu, Garuda tetap berstatus sebagai pemegang saham pengendali.

Andi menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari program restrukturisasi Garuda Indonesia Group yang sudah disetujui pemerintah. 

“Sinergi dengan API membuka peluang kolaborasi lintas sektor dalam ekosistem aviasi nasional, sekaligus memperkuat posisi GMFI sebagai perusahaan MRO kebanggaan Indonesia yang siap bersaing di pasar global,” ujarnya.

Dana hasil rights issue nantinya akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung kegiatan operasional, termasuk peningkatan standar keselamatan dan kualitas layanan. 

Dengan aset strategis yang kini dimiliki serta struktur permodalan yang lebih sehat, GMFI menargetkan ekspansi kapasitas bisnis sekaligus memperkuat posisi sebagai penyedia jasa MRO terintegrasi di tingkat internasional.