![]() |
| BRIN mengumumkan penemuan dua spesies anggrek baru asal Raja Ampat, Papua Barat, yaitu Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu. (Linkedin) |
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan dua spesies anggrek baru yang berasal dari Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Kedua spesies tersebut diberi nama Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Telopea pada Agustus 2025, dan menambah daftar panjang kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.
Penemuan ini merupakan hasil kerja sama antara BRIN, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat, serta tim internasional yang melibatkan Royal Botanic Gardens Kew (Inggris) dan Australian Tropical Herbarium dari James Cook University (Australia). Penelitian dimulai pada 2022 melalui kegiatan inventarisasi tumbuhan di Pulau Batanta, Raja Ampat.
“Setelah beberapa tahun, sejumlah koleksi anggrek hasil survei berbunga, sehingga memungkinkan dilakukan pengamatan morfologi yang lebih mendalam,” jelas Destario Metusala, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, dalam keterangan tertulisnya.
Kedua spesies tersebut termasuk jenis anggrek epifit tumbuhan yang menempel pada batang pohon dan tumbuh tanpa merusak inangnya. Berdasarkan hasil pengamatan, kedua spesies ini diduga endemik, dengan sebaran alami yang sangat terbatas di wilayah Raja Ampat.
Tim peneliti mengusulkan agar Dendrobium siculiforme masuk kategori “Kritis” (Critically Endangered), sementara Bulbophyllum ewamiyiuu diklasifikasikan sebagai “Kekurangan Data” (Data Deficient) menurut standar penilaian IUCN Red List.
Status tersebut menunjukkan bahwa kedua spesies berada dalam kondisi rentan terhadap ancaman hilangnya habitat dan eksploitasi.
Meski baru diumumkan, indikasi perdagangan liar sudah mulai muncul. “Bulbophyllum ewamiyiuu sudah mulai diperdagangkan hingga ke Pulau Jawa,” kata Destario, memperingatkan potensi ancaman terhadap kelestarian spesies tersebut.
Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap habitat alami di Raja Ampat semakin meningkat akibat pembukaan lahan dan aktivitas pariwisata yang tidak terkendali.
Pihak BBKSDA Papua Barat juga menyoroti persoalan serupa. Kepala BBKSDA Papua Barat, yang dihubungi secara terpisah, menyebut pihaknya tengah memperketat pengawasan terhadap perdagangan tanaman endemik.
“Kami sedang berkoordinasi dengan aparat terkait untuk menelusuri jalur peredaran dan memastikan perlindungan spesies baru ini,” ujarnya.
Kepulauan Raja Ampat selama ini dikenal sebagai wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi, baik di darat maupun di laut. Namun, sebagian besar kawasan hutannya belum sepenuhnya terpetakan secara ilmiah.
Temuan dua spesies baru ini memperlihatkan masih banyak potensi flora Papua yang belum terungkap, sekaligus menunjukkan tantangan dalam menjaga ekosistem yang rapuh di kawasan tersebut.
Penelitian lanjutan akan dilakukan untuk memantau populasi alami kedua spesies dan memastikan langkah konservasi yang tepat.
BRIN menyebut penemuan ini menjadi pengingat akan pentingnya riset berkelanjutan di wilayah timur Indonesia yang selama ini menjadi rumah bagi banyak spesies unik dan langka.

0Komentar