TikTok menjadi aplikasi paling populer di kalangan remaja Indonesia dengan lebih dari 157 juta pengguna. Platform ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membentuk budaya populer, identitas digital, hingga perilaku belanja generasi muda. (Shutterstock)

TikTok kini menjadi salah satu platform paling berpengaruh di kalangan remaja Indonesia. Dengan jumlah pengguna aktif lebih dari 157 juta pada 2024, mayoritas berasal dari kelompok usia 13 hingga 24 tahun, aplikasi ini membentuk pola ekspresi, interaksi sosial, bahkan perilaku belanja generasi muda. 

Bagaimana sebenarnya TikTok mengubah budaya populer di kalangan remaja, dan apa saja dampak yang mengiringinya?

Data menunjukkan Indonesia menempati posisi pertama di dunia sebagai negara dengan pengguna TikTok terbanyak. 

Dari total pengguna, 14,4% berusia 13–17 tahun dan 34,9% berada di kelompok 18–24 tahun. Artinya, lebih dari separuh pengguna merupakan generasi muda yang masih dalam tahap pencarian identitas.

Rata-rata waktu penggunaan TikTok di Indonesia tercatat sekitar 3,5 jam per hari, lebih tinggi dari rata-rata global 2,8 jam. Konten hiburan mendominasi dengan 56%, disusul edukasi 18%, tren dan tantangan 12%, serta kuliner 9%.

Menurut Muhammad Sufyan Tsauri, peneliti media sosial dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, TikTok memberi ruang baru bagi remaja untuk bereksperimen.

“TikTok memungkinkan remaja menemukan identitas mereka dan membangun persona online, sekaligus mendapatkan pengakuan sosial melalui likes dan komentar,” jelasnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa aplikasi video pendek tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang sosial di mana norma dan tren budaya populer dibentuk.


Manfaat yang terasa, risiko yang ikut muncul

TikTok berperan dalam mendorong kreativitas. Banyak remaja memanfaatkan fitur video pendek, musik, dan filter untuk menghasilkan konten unik. Tren tarian, tantangan, atau komedi ringan tidak hanya populer di kota besar, tetapi juga di kota tingkat dua dan tiga. 

Lebih dari 40 juta pengguna berasal dari wilayah di luar pusat urban, menandakan penetrasi TikTok yang luas.

Selain hiburan, platform ini kerap menjadi sarana edukasi. Konten belajar singkat, tips teknologi, hingga diskusi isu sosial mulai populer. Materi yang dikemas dalam durasi pendek dianggap lebih mudah diterima generasi muda.

Namun, tidak semua dampak bersifat positif. Tekanan untuk selalu mengikuti tren bisa menimbulkan kecemasan di kalangan remaja. Ada pula kekhawatiran berkurangnya interaksi tatap muka dan meningkatnya ketergantungan pada validasi digital.

Ulfatut Sari, akademisi psikologi sosial, menyebut bahwa dampak psikologis ini tidak boleh diabaikan.

“Pengaruh penggunaan TikTok terhadap eksistensi diri membuat remaja dapat mengeksplorasi berbagai persona. Tetapi pada saat yang sama, tekanan sosial digital juga berisiko menimbulkan stres jika mereka merasa tidak mampu mengikuti tren,” katanya.


TikTok sebagai ruang identitas

Dalam perspektif psikologi perkembangan, masa remaja adalah periode penting untuk membangun identitas diri. TikTok menjadi panggung digital bagi proses tersebut.

Fitur interaktif seperti komentar, duet, dan live streaming menciptakan komunitas cair yang melintasi batas geografis. Norma sosial di ruang digital ini cenderung lebih inklusif dibanding interaksi tradisional. Remaja bisa mengekspresikan diri tanpa terikat ketat pada nilai konservatif.

Kreator muda yang berhasil membangun audiens besar di TikTok sering dianggap role model oleh sesama remaja. Mereka menjadi figur baru yang membentuk tren mode, musik, hingga gaya komunikasi sehari-hari.

Hal ini menunjukkan pergeseran: jika dulu televisi dan musik radio menjadi sumber utama tren populer, kini TikTok menjadi rujukan utama bagi generasi muda.


TikTok Shop dan pola belanja

TikTok tidak hanya memengaruhi pola interaksi sosial, tetapi juga perilaku konsumsi remaja. Kehadiran TikTok Shop memperkuat peran aplikasi ini sebagai ekosistem hiburan sekaligus perdagangan.

Survei menunjukkan 78% pengguna TikTok di Indonesia pernah membeli produk melalui TikTok Shop, dengan 55% melakukan pembelian tanpa perencanaan. Fitur live shopping, flash sale, dan promosi waktu terbatas mendorong perilaku belanja impulsif, terutama di kalangan generasi Z.

Harga terjangkau, promosi voucher, dan pengaruh influencer membuat banyak remaja melakukan transaksi rutin. Sekitar 57% pengguna belanja 3–5 kali per bulan di TikTok Shop dengan pengeluaran rata-rata Rp50.000–Rp150.000 per transaksi.

Jika dibandingkan dengan marketplace lain, TikTok Shop unggul dalam integrasi belanja dan hiburan. Data 2023 menunjukkan pangsa pasar e-commerce Asia Tenggara dikuasai Shopee 45,9%, disusul Tokopedia 14,2%, Lazada 17,5%, dan TikTok Shop 13,9%. Meski belum terbesar, pertumbuhan TikTok Shop paling signifikan, terutama di segmen produk kecantikan, fashion, dan barang tren.

Rizal Effendi, pengamat ekonomi digital, menilai TikTok berhasil memanfaatkan basis penggunanya untuk mendorong konsumsi.

“Kekuatan TikTok Shop ada pada integrasi konten dan belanja. Remaja tidak hanya melihat iklan, tetapi langsung bisa membeli dari video yang mereka tonton,” ujarnya.


Seberapa luas pengaruh TikTok di sini

Indonesia menjadi pasar strategis bagi TikTok. Sebagai negara dengan populasi muda besar dan penetrasi internet tinggi, platform ini memiliki dampak sosial yang lebih luas dibandingkan negara lain.

Penggunaan TikTok paling tinggi tercatat di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Namun pertumbuhan tercepat justru muncul di Makassar dan Semarang. Provinsi DKI Jakarta bahkan menyumbang sekitar 22% pengguna nasional.

Distribusi pengguna yang merata hingga kota tingkat dua dan tiga menunjukkan bahwa pengaruh budaya populer dari TikTok tidak hanya terbatas di pusat kota, melainkan meluas ke berbagai lapisan masyarakat.

Dengan durasi penggunaan rata-rata 3,5 jam per hari, TikTok menjadi aplikasi yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari remaja. Hal ini memperkuat perannya dalam membentuk kebiasaan, selera, hingga pandangan dunia generasi muda.


Apa artinya bagi generasi mendatang

TikTok kini menjadi penggerak utama budaya populer remaja Indonesia. Dari cara berkomunikasi, tren musik, hingga pola belanja, platform ini memengaruhi banyak aspek kehidupan generasi muda.

Namun, tantangan tetap ada. Pendampingan orang tua dan sekolah menjadi penting untuk mengarahkan penggunaan TikTok agar lebih sehat. Pemerintah juga berperan dalam memastikan regulasi yang seimbang antara perlindungan pengguna dan pertumbuhan industri digital.

Menurut Muhammad Sufyan Tsauri, peran TikTok akan terus berkembang.

“TikTok bukan sekadar platform hiburan, tapi alat transformasi sosial dan budaya masa kini yang mencerminkan dinamika global dan lokal yang saling berinteraksi,” katanya.

Dengan demikian, memahami pola penggunaan TikTok tidak hanya penting bagi remaja sebagai pengguna utama, tetapi juga bagi masyarakat luas untuk melihat bagaimana teknologi digital membentuk masa depan budaya populer di Indonesia.