Pemerintah meluncurkan perluasan proyek pipa gas Cirebon-Semarang (Cisem) senilai Rp1,7 triliun ke Bandung dan Yogyakarta. Proyek akan ditenderkan terbuka November–Desember 2025, memberi peluang sektor swasta berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur energi nasional. (Istimewa)

Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan perluasan proyek pipa transmisi gas Cirebon-Semarang (Cisem) ke Bandung dan Yogyakarta dengan nilai investasi Rp1,7 triliun. Proyek ini akan ditenderkan secara terbuka pada November-Desember 2025 dan ditargetkan mulai konstruksi pada Januari 2026.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, mengatakan proyek perluasan terbagi dalam dua jalur. 

Jalur pertama Cirebon-Bandung sepanjang 132 kilometer dengan anggaran Rp865,07 miliar, sementara jalur kedua Semarang-Solo-Yogyakarta sepanjang 148 kilometer dengan nilai Rp895,63 miliar.

"Untuk jalur Cirebon-Bandung, anggaran Rp10,94 miliar dialokasikan tahun 2025 dan Rp854,13 miliar pada 2026. Jalur Semarang-Solo-Yogyakarta mendapat Rp13,13 miliar pada 2025 dan Rp882,50 miliar pada 2026," kata Dadan dalam rapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (3/9/2025).

Berbeda dengan pembangunan tahap sebelumnya yang banyak menggunakan APBN, proyek ini akan dibuka untuk partisipasi swasta. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menegaskan tendernya bersifat inklusif.

“Bisa swasta. Ini tender terbuka,” ujar Yuliot di Kompleks Parlemen. Menurutnya, keterlibatan sektor swasta diharapkan mempercepat penyelesaian sekaligus mengurangi beban anggaran negara.

Perluasan ini merupakan tindak lanjut dari Cisem Tahap I yang sudah beroperasi sejak November 2023. Sementara Cisem Tahap II kini mencapai progres 77 persen dengan target rampung pada 2026.

Pemerintah menyebut keberadaan jaringan baru akan memperkuat konektivitas pipa transmisi dari Sumatera hingga Jawa Timur, sekaligus memperluas distribusi gas bumi ke kawasan industri di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Data Perusahaan Gas Negara (PGN) menunjukkan, industri yang menggunakan gas bumi dapat menghemat biaya operasional antara 10 hingga 25 persen dibandingkan bahan bakar konvensional. 

Hal ini diharapkan meningkatkan daya saing kawasan industri serta menarik minat investor domestik maupun asing.

Selain itu, strategi pengembangan jaringan gas sejalan dengan target pemerintah mengurangi ketergantungan impor LPG dan mendukung rencana Net Zero Emission 2060.