![]() |
| Harga beras di Indonesia masih tinggi, namun Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kondisi pangan nasional aman dengan produksi surplus dan inflasi yang menurun. (Dok. Kementan) |
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kondisi pangan nasional tetap terkendali meski harga beras masih tinggi di pasaran. Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kenaikan harga beras hanya berdampak kecil pada inflasi, yakni 0,03 persen.
Menurut BPS, inflasi nasional justru menurun dari 2,37 persen menjadi 2,31 persen pada Agustus 2025.
Amran menyebut produksi beras nasional hingga Oktober 2025 diperkirakan mencapai 31 juta ton, naik dari 28 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Estimasi total produksi tahun ini bahkan bisa mencapai 34 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya 30 juta ton.
“Artinya produksi di atas surplus 3 juta ton dibanding tahun lalu. Dan yang menarik adalah 31 juta ton itu sampai Oktober. Tahun lalu itu produksi hanya 30 juta ton. Padahal masih ada 2 bulan. Estimasi kita itu 34 juta ton,” kata Amran di Jakarta.
BPS memperkirakan kebutuhan konsumsi beras nasional hanya sekitar 27,3 juta ton. Dengan demikian, Indonesia mengalami surplus 3,7 juta ton.
Pemerintah melaksanakan operasi pasar besar-besaran dengan menyalurkan 1,3 juta ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di 4.000 titik hingga akhir Agustus 2025. Langkah ini berhasil menekan inflasi beras dan akan terus berlanjut di 214 kabupaten.
Amran menjelaskan kelangkaan beras di ritel modern bukan disebabkan kurangnya pasokan, melainkan pergeseran distribusi.
“Toh sekarang ini transisi pergeseran pangan kita dari premium itu bergeser ke medium, pasar tradisional, dan itu terjadi,” ujarnya.
Komisi IV DPR memberikan apresiasi terhadap kinerja Kementerian Pertanian dalam menjaga stabilitas harga beras.
Anggota DPR Heri Dermawan dari Fraksi PAN menyebut harga mulai terkendali, namun mendorong percepatan penyaluran beras SPHP dan program Gerakan Pangan Murah (GPM) agar lebih merata.
Meski kondisi beras dinilai aman, Amran mengakui masih ada anomali harga di sejumlah komoditas lain, seperti minyak goreng, ayam, dan telur. Ia menilai hal ini perlu segera diatasi, mengingat Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia.
Peningkatan produksi beras tahun ini didukung oleh perluasan luas panen hingga 10,22 juta hektare, naik 11,90 persen dibanding tahun lalu, serta optimalisasi lahan dengan pola tanam dua hingga tiga kali setahun.
Selain itu, hingga September 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras, berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengimpor 3–4 juta ton.
Pemerintah juga mencatat rekor baru melalui GPM serentak di 4.337 titik, yang mendapat penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI).
“Sudah lihat nggak BPS? Hasil BPS terhadap inflasi pengaruhnya 0,03 persen. Dan inflasi kita turun dari 2,37 menjadi 2,31. Itu artinya apa? Pangan kita yang kontribusi tertinggi biasanya itu menunjukkan bahwa baik-baik saja,” kata Amran.

0Komentar