Kremlin menuduh NATO terlibat langsung dalam perang Ukraina setelah insiden drone Rusia di Polandia dan Rumania picu operasi Eastern Sentry. (REUTERS/Annegret Hilse

Kremlin meningkatkan retorikanya terhadap NATO pada Senin (15/9), dengan menyatakan aliansi Barat itu “secara de facto sedang berperang dengan Rusia” melalui dukungan militer kepada Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Dmitry Peskov dalam konferensi pers di Moskow, setelah serangkaian insiden pelanggaran drone Rusia ke wilayah udara negara anggota NATO.

“NATO sedang berperang dengan Rusia. Hal ini sudah jelas dan tidak memerlukan bukti lebih lanjut,” kata Peskov seperti dikutip media pemerintah Rusia. 

Menurutnya, bantuan militer Barat kepada Kyiv membuat NATO menjadi “peserta aktif” dalam konflik.

Ketegangan meningkat sejak 10 September lalu, ketika 19 drone Rusia masuk ke wilayah udara Polandia saat menyerang Ukraina. Jet tempur Polandia dan Belanda yang dikerahkan NATO berhasil menembak jatuh beberapa di antaranya.

Beberapa hari kemudian, pada 13 September, otoritas Rumania melaporkan sebuah drone Rusia terbang di wilayah udaranya selama hampir 50 menit. Pilot F-16 Rumania sempat mendapat izin menembak jatuh, tetapi batal mengeksekusi karena mempertimbangkan risiko tambahan.

Menanggapi insiden tersebut, NATO mengaktifkan Operasi Eastern Sentry pada 12 September. Aliansi menambah kekuatan militer di sayap timur, termasuk Denmark yang mengirim dua jet F-16 dan satu fregat anti-udara, serta Prancis dan Jerman yang menjanjikan pengiriman jet Rafale dan Eurofighter.

Presiden Polandia Karol Nawrocki pada Minggu (14/9) memberi lampu hijau untuk pengerahan pasukan NATO di wilayahnya sebagai bagian dari operasi itu. Langkah ini menjadi salah satu respons paling langsung aliansi terhadap ancaman Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai pada 2022.

Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, kini wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, menilai kemungkinan zona larangan terbang di atas Ukraina berpotensi memicu perang terbuka. 

“Penerapan ide provokatif untuk menciptakan zona larangan terbang dan kemampuan negara-negara NATO untuk menembak jatuh UAV kami hanya berarti satu hal — perang antara NATO dan Rusia,” tulis Medvedev di Telegram.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski justru mendukung ide zona larangan terbang terbatas di Ukraina barat. Menurutnya, langkah itu bisa melindungi Ukraina sekaligus mengurangi risiko bagi negara tetangga. 

Meski begitu, NATO sejauh ini konsisten menolak usulan serupa karena khawatir menimbulkan eskalasi langsung dengan Moskow.

Ketegangan semakin tajam ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (13/9) mendesak sekutu NATO berhenti membeli minyak dari Rusia sebelum Washington menjatuhkan sanksi baru.

“Saya siap memberlakukan sanksi besar terhadap Rusia ketika semua negara NATO berhenti membeli minyak dari Rusia,” tulis Trump di platform Truth Social. 

Ia juga menyebut komitmen NATO “jauh dari 100%” dan menyayangkan beberapa anggota yang masih bertransaksi energi dengan Moskow.

Menurut data perdagangan, Turki saat ini menjadi pembeli minyak Rusia terbesar ketiga setelah Tiongkok dan India, sementara Hungaria dan Slovakia juga tetap melakukan impor.

Serangkaian insiden drone, pengerahan pasukan tambahan NATO, hingga ancaman sanksi energi AS mencerminkan hubungan Rusia–NATO yang makin terjal. 

Dengan retorika Kremlin yang semakin keras dan operasi militer aliansi di sayap timurnya, risiko konfrontasi langsung antara kedua kubu disebut berada pada titik paling tinggi sejak awal perang Ukraina.