Indonesia akan mengimpor 1,4 juta kiloliter BBM dari Amerika Serikat untuk Pertamina dan SPBU swasta. Langkah ini bagian dari kesepakatan dagang strategis antara Indonesia dan AS. (Foto: Jhon Hill/Wikimedia Commons)

Pemerintah Indonesia memastikan akan mengimpor 1,4 juta kiloliter (KL) bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan PT Pertamina dan SPBU swasta seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo Energy. 

Kebijakan ini diumumkan pada September 2025 oleh Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, yang menegaskan angka tersebut masih bersifat kumulatif dan porsi masing-masing pihak menunggu data rinci dari badan usaha terkait.

Langkah ini bukan sekadar soal pasokan energi, tetapi juga terkait komitmen dagang antara Indonesia dan AS. 

“Impor ini sekaligus bagian dari strategi memperkuat neraca perdagangan dan menjaga hubungan dagang dengan Amerika Serikat,” kata Yuliot.

Langkah impor BBM dilakukan menyusul kelangkaan stok di SPBU swasta sejak Agustus 2025. Peralihan masyarakat dari BBM bersubsidi seperti Pertalite ke BBM nonsubsidi membuat permintaan di pasar swasta meningkat. Pemerintah menunjuk Pertamina sebagai importir tunggal dengan mekanisme “satu pintu”.

Pertamina akan membeli BBM dari perusahaan AS, termasuk ExxonMobil dan Chevron, meskipun produk yang diterima bisa berasal dari negara lain, selama pembelian dilakukan melalui perusahaan AS untuk tercatat dalam neraca perdagangan Indonesia-AS.

Impor BBM ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang yang diteken Juli 2025. Presiden AS saat itu, Donald Trump, menurunkan tarif impor produk Indonesia dari 32% menjadi 19% dengan syarat Indonesia memenuhi empat komitmen yaitu tidak mengenakan tarif pada produk ekspor AS, membeli produk energi senilai US$15 miliar (Rp244 triliun), produk pertanian US$4,5 miliar (Rp73 triliun), dan 50 unit pesawat Boeing (seri 777) untuk Garuda Indonesia.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dalam keterangan pers, menambahkan, “Kesepakatan ini bukan hanya tentang energi, tapi juga produk pertanian, pesawat, dan investasi AS di Indonesia. Semua tercatat resmi untuk menjaga keseimbangan perdagangan kedua negara.”

Sebelumnya, impor energi Indonesia dari AS hanya 0,1% dari total impor BBM pada 2024 yang mencapai US$21,6 miliar. Mayoritas BBM diimpor dari Singapura (53%) dan Malaysia (21%). 

Dengan tambahan impor dari AS, pemerintah menargetkan perbaikan defisit neraca perdagangan yang mencapai US$17,9 miliar pada 2024.

Selain sektor energi, kesepakatan dagang juga mencakup investasi AS di Indonesia, seperti pembangunan fasilitas CCS oleh ExxonMobil, pusat data oleh Oracle, dan infrastruktur cloud/AI oleh Microsoft dan Amazon, dengan nilai total mencapai US$23,2 miliar. 

Pemerintah juga menghapus lisensi impor produk pertanian AS dan mengakui sertifikasi FDA untuk alat kesehatan, serta memberikan kepastian hukum terkait perlindungan data pribadi lintas batas.

Wakil Menteri ESDM menekankan, “Impor BBM dari AS bukan semata untuk kebutuhan domestik, tapi bagian dari strategi politik dan ekonomi untuk menjaga hubungan dagang. Pemerintah tetap mengatur agar impor pertanian hanya untuk komoditas yang tidak diproduksi di dalam negeri, demi stabilitas inflasi.”

Sementara itu, analis energi dari Lembaga Riset Energi Nasional menilai bahwa langkah ini akan membantu mengatasi kelangkaan BBM jangka pendek dan memberikan fleksibilitas pasokan bagi SPBU swasta.

Kesepakatan dagagang komprehensif

Komponen Kesepakatan Detail Nilai
Tarif Impor AS untuk Indonesia Turun dari 32% menjadi 19% -
Impor Energi Indonesia dari AS Minyak mentah, LPG, BBM US$15 miliar (Rp244 triliun)
Impor Pertanian Indonesia dari AS Produk pertanian (kedelai, gandum, dll) US$4,5 miliar (Rp73 triliun)
Pembelian Pesawat 50 unit Boeing seri 777 oleh Garuda Indonesia -
Investasi AS di Indonesia CCS, pusat data, cloud/AI, alat kesehatan US$23,2 miliar

Keseluruhan rencana ini diproyeksikan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat hubungan dagang Indonesia-AS sekaligus memastikan pasokan energi domestik tetap stabil.