![]() |
| Gudang Garam diterpa isu PHK massal usai video viral perpisahan karyawan. KSPI lakukan verifikasi, perusahaan bantah, kinerja laba terus melemah. (Istimewa) |
Sebuah video yang menampilkan suasana haru perpisahan karyawan PT Gudang Garam Tbk viral di media sosial sejak awal September 2025. Dalam rekaman berdurasi beberapa menit itu, tampak sejumlah pekerja berseragam perusahaan saling berpelukan, berjabat tangan, dan meneteskan air mata.
Banyak warganet yang menduga momen tersebut merupakan bagian dari pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia.
Isu itu cepat menyebar, menimbulkan pertanyaan publik mengenai kondisi perusahaan, nasib ribuan buruh, dan arah kebijakan industri rokok nasional. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari manajemen PT Gudang Garam, sementara serikat pekerja menyatakan sedang menelusuri kebenaran kabar tersebut.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Ketua Partai Buruh, Said Iqbal, menyebut pihaknya telah menerima laporan awal terkait dugaan PHK.
“Kami sedang memverifikasi jumlah buruh yang terdampak dan memastikan hak-hak mereka dipenuhi,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (4/9/2025).
Iqbal mengingatkan bahwa jika benar terjadi PHK massal, dampaknya bisa jauh meluas.
“Ini bukan hanya soal buruh pabrik. Buruh tembakau, petani, sopir angkutan, pedagang kecil, hingga pemilik kontrakan akan ikut merasakan. Efek domino bisa menggerus ekonomi lokal,” katanya.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang memicu tekanan pada industri rokok, antara lain menurunnya daya beli masyarakat, tingginya beban cukai, maraknya peredaran rokok ilegal, dan minimnya inovasi produk. KSPI menilai kombinasi faktor tersebut membuat perusahaan besar sekalipun kesulitan mempertahankan kinerja.
Di sisi lain, pihak penyedia tenaga kerja untuk Gudang Garam di Tuban, PT Merdeka Nusantara, menyatakan bahwa informasi PHK massal tidak benar. Manajemen perusahaan itu menegaskan operasional pabrik di Tuban masih berjalan normal.
“Video yang beredar tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Tidak ada PHK massal di pabrik Tuban,” klaim perwakilan PT Merdeka Nusantara.
Mereka menyebut kabar yang beredar sebagai hoaks dan meminta masyarakat berhati-hati menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pernyataan ini sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan narasi antara isu yang berkembang di publik dengan klarifikasi resmi dari mitra perusahaan.
Latar Belakang Kondisi Perusahaan
Isu PHK mencuat di tengah sorotan terhadap kinerja keuangan PT Gudang Garam Tbk yang melemah.
Laporan keuangan semester I 2025 mencatat penurunan laba bersih sebesar 87,34 persen, dari Rp925,51 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp117,16 miliar.
Pendapatan perusahaan turun 11,29 persen menjadi Rp44,36 triliun, sementara laba usaha anjlok hingga 68,16 persen ke angka Rp513,71 miliar. Penurunan margin laba kotor hingga 8,6 persen dan margin laba bersih yang hanya 0,3 persen memperlihatkan tantangan berat yang sedang dihadapi perusahaan.
Selain itu, harga saham Gudang Garam terus merosot. Sejak awal tahun, saham perusahaan turun 32 persen, bahkan terkoreksi hingga 91,13 persen dari puncak tertingginya pada Maret 2019. Kondisi ini menambah kekhawatiran investor maupun pekerja terhadap keberlanjutan usaha.
Dalam rekaman yang beredar luas di berbagai platform, terlihat barisan pekerja pria dan wanita berdiri berhadapan di sebuah ruangan pabrik.
Beberapa di antara mereka tampak menyeka air mata dengan seragam kerja masih melekat. Ada pula yang saling memeluk erat dan berjabat tangan dengan ekspresi berat hati.
Seorang saksi mata yang berada di lokasi mengungkapkan bahwa momen itu terjadi setelah adanya pengumuman internal.
“Banyak yang menangis karena merasa harus berpisah dengan teman-teman yang sudah lama bekerja bersama,” tutur salah seorang pekerja yang meminta namanya tidak disebutkan.
Meski begitu, tidak ada konfirmasi resmi apakah pertemuan itu berkaitan langsung dengan PHK atau hanya merupakan perpisahan biasa antarpekerja kontrak.
Sorotan Publik dan Janji Pemerintah
Isu ini segera menjadi bahan pembicaraan hangat di media sosial. Banyak warganet menyinggung janji pemerintah untuk menciptakan 19 juta lapangan kerja baru, sebagaimana pernah disampaikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Di balik mereka yang di-PHK ada keluarga, anak, dan istri. Semoga ada solusi terbaik,” tulis seorang pengguna platform X.
Sebagian netizen menilai pemerintah perlu turun tangan lebih cepat mengantisipasi dampak PHK di industri padat karya seperti rokok.
Tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan kasus PHK besar-besaran di perusahaan tekstil Sritex beberapa waktu lalu, yang menyisakan masalah pembayaran hak-hak buruh.
Analisis Kinerja Gudang Garam
Tekanan yang dialami Gudang Garam tidak terlepas dari dinamika industri rokok nasional. Laporan semester I 2025 memperlihatkan penurunan pendapatan dan laba di hampir semua lini.
Laba Bersih: Turun drastis 87,34 persen menjadi Rp117,16 miliar, dari Rp925,51 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Pendapatan: Terkoreksi 11,29 persen menjadi Rp44,36 triliun, seiring pelemahan daya beli konsumen.
Laba Usaha: Merosot 68,16 persen ke Rp513,71 miliar, menekan margin keuntungan perusahaan.
Margin Laba: Gross margin hanya 8,6 persen, sementara net margin tinggal 0,3 persen.
Kinerja Saham: Harga saham turun 32 persen sejak awal tahun, dan jatuh lebih dari 90 persen dari level puncak tahun 2019.
Neraca Keuangan: Total aset menyusut menjadi Rp79,80 triliun per Juni 2025, dari Rp84,93 triliun pada akhir 2024. Namun, kas meningkat ke Rp3,96 triliun dan liabilitas berkurang ke Rp18,72 triliun, memberi ruang napas likuiditas.
Rasio Profitabilitas: Return on Equity (ROE) hanya 0,19 persen dan Return on Assets (ROA) 0,15 persen, menandakan rendahnya pengembalian modal.
Meski liabilitas menurun dan arus kas operasional meningkat, pelemahan laba bersih dan penurunan margin menunjukkan perusahaan menghadapi tekanan besar dalam menjaga profitabilitas. Investor menilai situasi ini sebagai sinyal hati-hati terhadap prospek jangka pendek perseroan.
Desakan kepada Pemerintah
KSPI dan Partai Buruh mendesak pemerintah meninjau ulang kebijakan cukai rokok yang dinilai membebani industri. Menurut Said Iqbal, tekanan fiskal dari kenaikan cukai yang bertubi-tubi berpotensi mempercepat gelombang PHK.
“Jangan sampai kasus seperti Sritex terulang, di mana ribuan buruh kehilangan pekerjaan tanpa kepastian hak, bahkan Tunjangan Hari Raya pun tidak dibayar,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika benar terjadi PHK di Gudang Garam, hal itu bisa menjadi alarm serius bagi perekonomian nasional.
“Rokok adalah salah satu sektor yang menyerap jutaan tenaga kerja dari hulu sampai hilir. Jika perusahaan sebesar Gudang Garam terguncang, maka imbasnya bisa sangat luas,” katanya.
Kondisi industri rokok nasional memang sedang menghadapi berbagai tekanan. Data penjualan menunjukkan adanya penurunan konsumsi rokok di dalam negeri, seiring meningkatnya kampanye kesehatan dan regulasi pembatasan.
Di sisi lain, maraknya peredaran rokok ilegal turut menggerus pangsa pasar produsen resmi. Perusahaan-perusahaan besar harus bersaing dengan produk murah tanpa cukai, yang beredar luas di pasar tradisional maupun toko kelontong.
Industri juga dituntut melakukan inovasi produk, sementara margin keuntungan semakin tipis akibat beban pajak dan biaya produksi.
Situasi inilah yang disebut serikat pekerja sebagai penyebab utama potensi PHK di berbagai perusahaan, termasuk di Gudang Garam.
Status Verifikasi
Hingga kini, kebenaran video viral yang disebut-sebut sebagai bukti PHK massal masih belum terverifikasi sepenuhnya. KSPI menyatakan sedang melakukan investigasi untuk memastikan jumlah buruh yang terdampak dan kondisi di lapangan.
Sementara itu, PT Merdeka Nusantara telah menegaskan tidak ada PHK massal di pabrik Tuban. Manajemen PT Gudang Garam Tbk sendiri belum memberikan pernyataan publik terkait isu tersebut.
Meski belum ada kepastian resmi, isu PHK Gudang Garam sudah cukup mengguncang kepercayaan publik. Para pekerja dan komunitas sekitar pabrik khawatir akan masa depan mata pencaharian mereka.
Selain itu, kabar ini menambah tekanan bagi pemerintah yang tengah berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi nasional dan menciptakan lapangan kerja baru. Jika isu ini terbukti, gelombang PHK di sektor rokok bisa menjadi tantangan besar dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.

0Komentar