Gudang Garam alihkan fokus ke rokok murah SKT setelah laba bersih semester I-2025 anjlok 87%. Strategi ini dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah kenaikan cukai rokok mesin. (Ilustrasi: Apluswire/Hra)


PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalihkan fokus bisnisnya ke produk rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) untuk menangkap lonjakan permintaan rokok murah di pasar domestik. Pergeseran strategi ini diumumkan dalam Public Expose yang digelar Kamis (11/9) setelah perusahaan mencatat penurunan laba bersih signifikan pada semester I-2025.

Direktur GGRM, Heru Budiman, mengatakan penyesuaian portofolio produk ini dilakukan agar perusahaan tidak kehilangan pangsa pasar akibat kenaikan harga rokok mesin. 

“Kami di 2024 sudah mengeluarkan memperbesar varian produk dalam segmen SKT, sehingga bisa berpartisipasi memenuhi permintaan dari orang yang mencari rokok dengan harga lebih murah,” ujarnya.

Dalam lima tahun terakhir, tarif cukai untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) naik lebih tinggi dibandingkan SKT. Saat ini, cukai SKM sudah mencapai Rp19.000 per bungkus, sedangkan SKT isi 12 batang hanya Rp6.600. Perbedaan besar ini membuat banyak konsumen beralih ke SKT yang dianggap lebih terjangkau.

Data Nielsen menunjukkan penjualan SKT nasional naik dari 22,7% pada 2022 menjadi 31,1% pada 2024. Sementara itu, volume penjualan SKM terus menurun, termasuk di Gudang Garam, yang mencatat porsi SKM di bawah 85% pada 2024. Sebaliknya, kontribusi SKT naik menjadi 15,3% dari 13,7% pada 2023.

“Jangan sampai volume kita atau market share itu hilang percuma. Karena kalau kehilangan market share ke rokok lain, untuk memperolehnya kembali tidak mudah,” kata Heru.

Meski langkah diversifikasi ke SKT terus berjalan, kinerja keuangan Gudang Garam masih mengalami tekanan. Laba bersih semester I-2025 turun 87,3% menjadi Rp117,16 miliar, dibandingkan Rp925,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan juga merosot 11,29% menjadi Rp44,36 triliun.

Perusahaan mengakui 89,56% pendapatan masih bergantung pada SKM. Namun, kenaikan penjualan SKT setidaknya membantu menahan laju penurunan di tengah kenaikan tarif cukai dan persaingan dari rokok ilegal.

Asosiasi Petani dan Pekerja Tembakau (APPT) menilai langkah Gudang Garam memperkuat SKT dapat membantu menyerap tenaga kerja, mengingat produksi rokok tangan membutuhkan lebih banyak pekerja. 

“SKT adalah segmen yang menyerap puluhan ribu buruh linting. Kalau perusahaan memperbesar SKT, dampaknya bisa langsung terasa ke tenaga kerja,” kata salah satu pengurus APPT saat dimintai komentar.

Namun, tantangan masih ada. Industri rokok terus dibayangi oleh peredaran rokok ilegal yang dijual jauh lebih murah tanpa membayar cukai. 

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan sebelumnya menyatakan akan memperketat pengawasan agar target penerimaan negara dari cukai tetap tercapai.