Erick Thohir menyiapkan negosiasi ulang utang Rp116 triliun proyek kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh. Langkah ini dilakukan untuk meringankan beban KAI dan mencari skema baru bersama konsorsium China. (NFarras/wikimedia Commons)

Menteri BUMN Erick Thohir mengumumkan rencana negosiasi ulang terkait restrukturisasi utang dan beban finansial proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh. Langkah ini diambil untuk mengatasi potensi krisis keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang terikat dalam pembiayaan proyek senilai Rp116 triliun.

Erick menyampaikan hal tersebut dalam rapat di Gedung DPR RI, Senin (15/9). Ia menjelaskan, pemerintah tengah menyiapkan konsep baru pembagian kepemilikan aset kereta cepat. 

Fasilitas pendukung seperti prasarana, rel, dan stasiun akan diambil alih pemerintah, sedangkan sarana kereta dan operasional tetap di bawah pengelolaan KAI.

“Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, bahwa rencana daripada fasilitas pendukung itu diusulkan menjadi milik pemerintah. Tetapi yang kereta apinya semua operasional di KAI,” ujar Erick.

Skema tersebut belum bisa berjalan tanpa persetujuan mitra konsorsium asal Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co. Ltd, yang saat ini memegang 40 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC). Sementara itu, konsorsium Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia menguasai 60 persen saham.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan kondisi finansial KCIC sudah memasuki tahap mengkhawatirkan. Pada semester I 2025, KCIC mencatat kerugian Rp1,6 triliun. Dari jumlah itu, KAI harus menanggung Rp1,424 triliun sesuai porsi kepemilikan saham.

“Kondisi ini sudah seperti bom waktu yang harus segera ditangani,” kata Bobby.

Proyek Whoosh dibiayai 75 persen dari pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga 3,5–4 persen per tahun. Skema itu membuat KCIC wajib membayar bunga sekitar Rp2 triliun setiap tahun. Total pinjaman yang dikucurkan CDB mencapai USD7,2 miliar atau setara Rp116 triliun.

Erick menyebut, penyelesaian struktur utang menjadi syarat sebelum pemerintah melanjutkan rencana perpanjangan jalur kereta cepat hingga Surabaya. 

“Apalagi kita akan mendorong sampai nanti Surabaya, artinya struktur ini harus putus dulu sebelum kita dorong ke Surabaya,” katanya.

Untuk mengurangi beban, KAI akan berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Danantara. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025, restrukturisasi utang Whoosh sudah masuk sebagai salah satu dari 22 program strategis.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyebut pihaknya tengah menyiapkan beberapa alternatif solusi. Salah satunya adalah opsi mengalihkan aset KCIC menjadi aset negara. 

“Kami sedang menyiapkan alternatif solusi untuk disampaikan ke pemerintah,” kata Dony.

Sejak awal pengoperasian pada Oktober 2023, Kereta Cepat Whoosh disebut belum mencapai kinerja finansial sesuai proyeksi. Meski jumlah penumpang terus meningkat, beban utang dan bunga pinjaman tetap menjadi tekanan utama.

Dengan negosiasi ulang ini, pemerintah berharap dapat menekan beban KAI sekaligus menjaga keberlanjutan operasional kereta cepat pertama di Asia Tenggara tersebut.