China memamerkan rudal antarbenua terbaru DF-5C dengan jangkauan lebih dari 20.000 km dalam parade militer 80 tahun PD II di Beijing. (France24.com)

China memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru, DF-5C, dalam parade militer memperingati 80 tahun kemenangan atas Jepang pada Perang Dunia II di Beijing, Rabu (3/9/2025). Rudal berbahan bakar cair tersebut diklaim memiliki jangkauan lebih dari 20.000 kilometer, menjadikannya mampu mencapai hampir seluruh permukaan bumi dan memperkuat posisi strategis Beijing di kancah global.

Menurut laporan Global Times, DF-5C dilengkapi teknologi terbaru, termasuk kemampuan membawa hingga 10–12 hulu ledak independen (MIRV), sistem pemandu multi-lapis berbasis inersia, bintang, dan satelit Beidou, serta dapat diluncurkan dari berbagai platform. 

"China tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir dengan negara mana pun, dan hanya mempertahankan kekuatan nuklir pada level minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional," tulis media tersebut.

Parade ini juga menampilkan sejumlah persenjataan strategis lain, seperti rudal hipersonik DF-17 dan DF-26D, rudal jelajah jarak jauh Changjian-20A, sistem laser anti-drone, serta drone bawah air. 

Perhelatan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya China menunjukkan kesiapan triad nuklirnya, mencakup kemampuan darat, laut, dan udara. Selain DF-5C, Beijing juga memperkenalkan varian JL-3 untuk peluncuran bawah laut dan Jinglei-1 untuk platform udara.

Pakar teknologi rudal dan perlucutan senjata nuklir, Profesor Yang Chengjun, menyebut kehadiran DF-5C memiliki arti strategis yang besar bagi Beijing. 

“Pertama, ini mengingatkan rakyat agar tidak melupakan sejarah. Kedua, memberi peringatan bahwa ancaman nyata masih ada. Situasi keamanan yang dihadapi China tetap kompleks dan serius,” tuturnya.

Pengamat militer internasional memandang langkah ini sebagai sinyal politik kepada dunia bahwa China kini memiliki kemampuan serangan balasan global, termasuk potensi peluncuran cepat atau launch-on-warning. 

Meski demikian, sejumlah analis meragukan kesiapan operasional penuh dari beberapa sistem yang ditampilkan.

Kementerian Pertahanan China menegaskan bahwa pengembangan DF-5C sejalan dengan doktrin nuklir Beijing yang menganut prinsip no-first-use atau tidak akan menggunakan senjata nuklir sebagai serangan pertama, serta tidak mengancam negara non-nuklir. 

Hingga kini, jumlah pasti DF-5C yang telah ditempatkan dalam inventaris Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Rocket Force) belum diungkapkan.

Bagian dari peringatan nasional ini juga dipandang sebagai pesan internal untuk memperkuat nasionalisme dan mengingatkan sejarah, sekaligus sebagai demonstrasi kekuatan ke luar negeri di tengah dinamika keamanan kawasan Asia-Pasifik.