Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Jepang mengirim jet tempur F-15J ke Eropa. Langkah ini perkuat hubungan dengan NATO dan tandai pergeseran strategis Tokyo. (Foto: lAnadolu Agency)

Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Jepang mengirimkan jet tempurnya ke Eropa. Empat unit F-15J Eagle dari Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF) terbang menuju Inggris dan Jerman pada 13–24 September 2025. Selain jet tempur, Tokyo juga menugaskan pesawat angkut strategis Kawasaki C-2 yang akan singgah ke Polandia.

Langkah bersejarah ini diumumkan akhir Agustus lalu di forum keamanan Pacific Future Forum di Tokyo. Kementerian Pertahanan Jepang menyebut pengerahan tersebut sebagai bagian dari latihan bersama sekaligus upaya mempererat hubungan dengan sekutu Eropa, khususnya Inggris dan Jerman.

“Jepang adalah sekutu keamanan terdekat Inggris di Asia, dan saya tahu Jepang melihat Inggris sebagai mitra terdekat di Eropa,” kata John Healey, Sekretaris Negara Inggris untuk Pertahanan, dalam keterangan resmi di London.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Jepang dikenal dengan kebijakan pertahanan pasif yang diatur Pasal 9 Konstitusi. Namun, dinamika keamanan global mendorong perubahan besar. Tokyo kini menegaskan peran aktif di kancah internasional, tak hanya di Asia tetapi juga dalam kemitraan dengan NATO.

Analis pertahanan di Tokyo menyebut pengerahan ini sebagai simbol pergeseran. “Ini simbol betapa jauh Jepang bergerak dari sikap pasifis pascaperang,” ujarnya.

Sejarah mencatat, terakhir kali pasukan Jepang terlibat langsung di Eropa adalah saat Perang Dunia I, ketika kapal perang Negeri Sakura mengawal konvoi Sekutu di Samudra Hindia. Sejak itu, Jepang lebih banyak fokus menjaga keamanan regional di Asia Timur.

Pengumuman pengerahan F-15J disampaikan pada 28 Agustus 2025. Pesawat berasal dari Skuadron Tempur Taktis ke-201 dan 203 di Pangkalan Udara Chitose, Hokkaido.

Rencana penempatan sementara dilakukan di pangkalan RAF Coningsby, Inggris, sebelum bergeser ke Jerman. Pesawat angkut Kawasaki C-2 dijadwalkan mengangkut logistik dan singgah ke Polandia sebagai dukungan bagi Ukraina.

Menurut Akhil Kadidal, analis di Janes Information Services, Jepang akan menggunakan varian F-15J/DJ paling modern yang sudah kompatibel dengan standar NATO.

Keputusan Jepang tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik. Invasi Rusia ke Ukraina, ekspansi militer Tiongkok di Laut Cina Timur dan Selatan, serta uji coba rudal Korea Utara menjadi faktor pendorong utama.

John Healey menyoroti ancaman yang muncul di Eropa. “Rusia mendapat tentara dari Korea Utara, drone dari Iran, serta teknologi dan komponen senjata dari Cina,” ujarnya. Situasi itu, menurutnya, membuat kolaborasi dengan Jepang semakin penting.

Bagi Jepang, pengerahan ini juga menjadi ajang memperkuat hubungan dengan Eropa di luar payung keamanan Amerika Serikat. 

Tokyo kini aktif dalam Global Combat Air Programme (GCAP) bersama Inggris dan Italia, sebuah proyek jet tempur generasi keenam yang ditargetkan meluncur pada 2035. GCAP dipimpin konsorsium Edgewing yang beranggotakan BAE Systems, Leonardo, serta Japan Aircraft Industrial Enhancement Company.

Data Global Fire Power 2025 menempatkan Jepang di posisi ke-8 dari 145 negara, dengan indeks kekuatan 0,1839. Negeri Sakura juga mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar US$57 miliar pada 2025, dan menargetkan naik hingga 2% dari PDB pada 2027 standar yang juga digunakan NATO.
 
Peringkat Negara Power Index
1Amerika Serikat0.0744
2Rusia0.0788
3Tiongkok0.0788
4India0.1184
5Korea Selatan0.1656
6Inggris0.1785
7Prancis0.1878
8Jepang0.1839
9Turki0.1902
10Italia0.2164
Sumber: Global Firepower 2025. Power Index — semakin kecil nilainya, semakin kuat kapasitas militer.

Dalam kekuatan laut, Jepang mengoperasikan 42 kapal perusak dan 24 kapal selam, termasuk kapal induk helikopter kelas Izumo yang dimodifikasi untuk jet F-35B. 

Di udara, Tokyo memiliki 1.443 pesawat tempur, termasuk F-35A dengan target total 147 unit menjadikannya pemilik F-35 terbanyak di luar Amerika Serikat.

Sementara di darat, pasukan Jepang dipersenjatai ratusan tank modern Type 10 serta rudal jarak jauh, termasuk rudal Tomahawk buatan Amerika. Modernisasi ini menandai pergeseran dari pertahanan murni menuju kemampuan serangan balik, yang dulu tabu karena konstitusi pascaperang.

Pengiriman jet ke Eropa menjadi sinyal Jepang ingin memainkan peran lebih besar di luar Asia. Analis menilai, langkah ini tak sekadar latihan militer, tetapi juga penegasan Jepang sebagai mitra strategis NATO.

Keterlibatan Jepang juga dipandang relevan dengan kondisi Ukraina. Selain jet tempur, Tokyo menugaskan pesawat angkut Kawasaki C-2 ke Polandia, bagian dari kontribusi untuk mendukung kebutuhan logistik Kyiv.