![]() |
| Mahasiswa dari BEM Universitas Trisakti menegaskan bahwa aksi anarkis dalam demonstrasi bukan berasal dari mereka. (Tangkapan Layar Youtube DPR RI) |
Sejumlah perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa tindakan anarkis dalam demonstrasi yang terjadi beberapa waktu terakhir bukan berasal dari kalangan mereka. Hal itu disampaikan dalam audiensi dengan pimpinan DPR RI di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Jakarta, Senin (3/9/2025).
Perwakilan BEM Universitas Trisakti, Jili Colin, mengatakan mahasiswa sebagai kaum terpelajar tidak mungkin menyampaikan aspirasi dengan cara-cara anarkis.
Ia menilai ada pihak yang memprovokasi sehingga citra mahasiswa tercederai.
“Saya berani bersaksi bahwasannya kami di sini kaum terpelajar, mahasiswa-mahasiswi. Tidak mungkin, Pak, kami menyuarakan pendapat kami, aspirasi kamu, keluhan rakyat, jeritan rakyat dengan tindakan-tindakan anarkis,” kata Jili Colin, dikutip dari Kompas.com (3/9/2025).
Ia menambahkan, gerakan mahasiswa dalam beberapa hari terakhir mendapat gangguan dari adanya propaganda provokator.
“Betul tadi kata saudara dari BEM UI. Bahwasannya beberapa hari belakangan ini mungkin banyak sekali propaganda dari beberapa oknum-oknum provokator untuk mencederai nilai-nilai perjuangan yang kami perjuangkan ini. Itu sangat menghambat kami dalam bergerak,” ujar Jili.
Dalam forum yang sama, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada DPR. Perwakilan BEM UI, Agus Setiawan, meminta dibentuk tim investigasi independen untuk mengusut dugaan kekerasan aparat saat aksi 25–31 Agustus 2025 di Jakarta.
“Kami ingin ada pembentukan tim investigasi yang independen untuk mengusut tuntas berbagai kekerasan yang terjadi sepanjang bulan Agustus ini,” kata Agus.
Ia juga menyoroti kenaikan tunjangan DPR yang dinilai ironis di tengah kondisi ekonomi sulit.
“Di tengah masyarakat rentan, menderita, di-PHK, ekonomi lesu, daya beli masyarakat menurun, kok bisa ada wakil rakyat yang justru kabarnya tunjangannya dinaikkan?” ujarnya.
Selain itu, mahasiswa mendesak penghentian kriminalisasi aktivis, penuntasan kasus pelanggaran HAM berat, serta pengesahan RUU Perampasan Aset.
Mereka juga menilai tuduhan makar yang sempat disampaikan Presiden Prabowo Subianto merugikan gerakan mahasiswa.
Pertemuan tersebut dihadiri tiga Wakil Ketua DPR RI: Sufmi Dasco Ahmad, Cucun Ahmad Syamsurijal, dan Saan Mustopa.
Menanggapi aspirasi mahasiswa, Dasco menyampaikan permintaan maaf atas kekeliruan DPR dalam menjalankan tugas.
“Selaku pimpinan DPR kami menyatakan permohonan maaf atas kekeliruan serta kekurangan kami sebagai wakil rakyat,” kata Dasco.
Ia berjanji melakukan evaluasi menyeluruh dan membuka ruang dialog lanjutan agar tuntutan mahasiswa bisa dibahas lebih konkret.
Audiensi ini berlangsung setelah gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil sejak akhir Agustus. Aksi menuntut penolakan kenaikan tunjangan DPR, pembubaran DPR, serta investigasi atas dugaan kekerasan aparat.
Kericuhan sempat pecah, menimbulkan korban, termasuk Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas dilindas kendaraan Brimob. Sejumlah demonstran lain juga luka-luka dan ditangkap.
Selain BEM Trisakti dan BEM UI, audiensi juga dihadiri perwakilan BEM SI, GMNI, HMI, Himapolindo, serta organisasi mahasiswa dari Universitas Pamulang.

0Komentar