Pemilihan alas kaki yang salah, seperti sepatu sempit, hak tinggi, atau sandal jepit, dapat memengaruhi postur dan keseimbangan tubuh. (Freepik)

Penggunaan alas kaki yang tidak tepat ternyata dapat memengaruhi keseimbangan tubuh dan meningkatkan risiko cedera. Fakta ini terungkap dari hasil kajian kesehatan yang dilakukan sejumlah ahli ortopedi dan fisioterapi di Indonesia.

Alas kaki yang terlalu longgar, sempit, atau tidak memiliki bantalan memadai bisa mengganggu cara seseorang berdiri dan berjalan. Ketidaksesuaian ini dapat menimbulkan ketegangan pada otot kaki, pergelangan, hingga tulang belakang.

“Sepatu yang tidak sesuai dapat menyebabkan perubahan postur tubuh dan berujung pada masalah keseimbangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko jatuh, terutama pada kelompok usia lanjut,” jelas dr. Andika Prasetyo, Sp.OT, spesialis ortopedi di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Menurutnya, keseimbangan tubuh bergantung pada koordinasi otot dan tulang yang stabil. Alas kaki yang salah justru mengganggu mekanisme alami tersebut.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan Perhimpunan Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik Indonesia (Perdosri) juga menunjukkan bahwa hampir 40 persen lansia yang menggunakan alas kaki tidak sesuai ukuran mengalami gangguan keseimbangan. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terjatuh saat beraktivitas sehari-hari.

“Banyak pasien lansia yang datang dengan keluhan mudah terjatuh. Setelah ditelusuri, sebagian besar ternyata menggunakan alas kaki yang sudah aus atau ukurannya tidak lagi pas,” kata dr. Rina Wulandari, Sp.KFR, dokter spesialis rehabilitasi medik.

Pertimbangan memilih sepatu tidak hanya berhenti pada ukuran. Bentuk dan gaya alas kaki juga perlu diperhatikan karena berpotensi menimbulkan masalah pada tubuh. 

Beberapa contoh yang sering dijumpai antara lain:

1. Sandal jepit membuat jari kaki harus terus mencengkeram agar tidak lepas, sehingga otot kaki bekerja ekstra dan lengkungan kaki tegang.

2. Sepatu datar tanpa penyangga lengkung dapat meningkatkan tekanan pada lutut bagian dalam.

3. Sepatu hak tinggi memaksa berat tubuh bergeser ke depan, membebani telapak kaki bagian depan dan punggung bawah.

4. Slip-on atau selop memang praktis, tetapi sering mengurangi stabilitas dan membatasi gerakan alami kaki.


Selain aspek kesehatan, masalah ini juga terkait dengan kurangnya edukasi masyarakat tentang pentingnya alas kaki yang sesuai. Banyak orang masih memilih sepatu berdasarkan tren, tanpa mempertimbangkan fungsi.

“Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan, karena masalah kecil seperti salah pilih alas kaki bisa berdampak pada kualitas hidup. Edukasi sederhana mengenai ukuran dan jenis sepatu yang sesuai harus terus disosialisasikan,” ujar dr. Rina.

Dengan memahami dampak dari alas kaki yang tidak sesuai, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam memilih sepatu untuk aktivitas sehari-hari, baik untuk anak-anak, dewasa, maupun lansia.