Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut kemacetan menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 triliun per tahun, setara 4% PDB Jabodetabek. (Kompas/Kristianto Purnomo)

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan Jakarta mengalami kerugian ekonomi hingga Rp100 triliun per tahun akibat kemacetan lalu lintas. 

Angka ini ia sampaikan pada Senin (26/8), merujuk pada studi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (JUTPI) II.

Bappenas dan JUTPI II pada 2019 menghitung kerugian akibat kemacetan setara 4% Produk Domestik Bruto (PDB) Jabodetabek. Nilainya juga diperkirakan enam kali lipat dari biaya pembangunan MRT fase pertama.

“Transportasi adalah kunci konektivitas sebuah kota. Kemacetan tidak hanya menghambat mobilitas, tapi juga mempengaruhi perekonomian, pariwisata, dunia usaha, bahkan kesehatan masyarakat,” kata Rano Karno dalam keterangannya.

Studi serupa dari Kementerian Perhubungan pada 2023 mencatat kerugian Rp65 triliun per tahun hanya untuk wilayah DKI Jakarta. 

Sementara angka terbaru Bappenas dan JUTPI II menyebutkan kerugian lebih besar, yakni Rp100 triliun, jika mencakup kawasan Jabodetabek.

Kemacetan yang menahun tidak hanya membebani ekonomi, tetapi juga dirasakan sektor pariwisata dan usaha kecil. Aktivitas bisnis ikut terhambat karena keterlambatan distribusi barang dan jasa.

Rano menegaskan, selain sisi ekonomi, kemacetan juga berdampak langsung pada kualitas hidup warga. “Macet berkepanjangan bukan hanya soal waktu yang hilang, tapi juga soal kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah mengembangkan Intelligent Traffic Control System (ITCS) berbasis kecerdasan buatan. 

Sistem ini sudah dipasang di 65 dari total 321 persimpangan jalan. Menurut uji coba, ITCS mampu mengurangi waktu tunggu kendaraan hingga 15-20%.

Selain teknologi, Pemprov juga menggandeng pihak kepolisian dan TNI dalam mengatur arus lalu lintas. Pemerintah pusat disebut tetap memiliki peran penting dalam mendukung kebijakan transportasi jangka panjang.

Sebagai solusi jangka panjang, Rano mengusulkan pembangunan jalan bertingkat tiga seperti yang telah diterapkan di Bangkok. Namun ia mengakui proyek semacam itu membutuhkan biaya besar serta perencanaan matang.

“Jakarta harus melakukan sesuatu, dan itu dimulai dengan kolaborasi semua pihak,” tutup Rano Karno yang akrab disapa Bang Doel.