Nikel menjadi logam strategis yang tak tergantikan dalam kehidupan modern, dari dapur rumah tangga hingga baterai kendaraan listrik dan satelit. (Bloomberg)

Nikel, logam keperakan yang mungkin luput dari perhatian sehari-hari, sesungguhnya menyelimuti kehidupan modern manusia. Dari kawat pemanas setrika hingga sistem baterai mobil listrik, dari casing ponsel hingga komponen satelit, nikel adalah fondasi sunyi dari peradaban berteknologi tinggi. Tanpa nikel, dunia seperti yang kita kenal bisa terhenti tak berdaya menghadapi kemajuan.

Indonesia, sebagai negara pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, memainkan peran sentral dalam kisah global logam ini. Namun di balik kilaunya, tersimpan ketegangan geopolitik, risiko lingkungan, dan pertanyaan besar tentang masa depan energi bersih.


"Hidup manusia dikepung oleh nikel"

Kalimat itu bukan hiperbola. Nikel ditemukan dalam elemen pemanas seperti kompor listrik, oven, pemanas ruangan, bahkan solder. Di rumah tangga modern, kita bersentuhan dengannya setiap hari, tanpa menyadarinya.

Logam ini juga menyelinap ke kantong dan tas kita, dalam bentuk ponsel dan laptop. Casing ponsel sering terbuat dari baja tahan karat yang mengandung nikel, sementara bagian internalnya seperti konektor dan chip memanfaatkan sifat konduktif dan tahan panas nikel untuk menjaga performa tetap stabil.

"Nikel adalah tulang punggung industri elektronik dan energi modern," kata Dr. Hans Blomqvist, peneliti material dari ETH Zurich, dalam jurnal Energy Materials Review. "Tanpa nikel, tidak ada baterai lithium-ion berkapasitas tinggi. Tidak ada EV, tidak ada penyimpanan energi, dan tidak ada transisi hijau."

Salah satu aplikasi paling krusial saat ini adalah pada baterai kendaraan listrik (EV). Katoda NMC singkatan dari Nickel Manganese Cobalt mengandalkan nikel untuk meningkatkan kapasitas dan daya tahan baterai. 

Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa permintaan nikel dari industri baterai akan melonjak 19 kali lipat antara 2020 hingga 2040. Pada 2024, sekitar 15% dari produksi nikel global telah digunakan untuk baterai EV. Angka ini diperkirakan menembus 40% dalam dua dekade ke depan.


Indonesia menguasai, Tiongkok memproses

Sebagai produsen bijih nikel terbesar di dunia, Indonesia menyumbang lebih dari 40% produksi global. Namun bukan hanya jumlah yang membuat Indonesia penting, tetapi juga kebijakan. Sejak melarang ekspor bijih nikel mentah pada 2014, Indonesia memaksa industri global untuk memproses nikel di dalam negeri.

Hasilnya? Meledaknya investasi smelter. Pada 2024, Indonesia memasok 61% dari produksi nikel refined (olahan) global. Angka ini diperkirakan naik menjadi 74% pada 2028, menurut laporan Financial Times.

Kunci dari lonjakan ini adalah kehadiran investor Tiongkok, seperti Tsingshan Group, yang menguasai Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah. 

Melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), Tiongkok berhasil mengolah bijih laterit kadar rendah yang dulu dianggap tak ekonomis menjadi bahan baku baterai EV.

"Indonesia kini menjadi episentrum nikel dunia," ujar Dr. Mark Selby, analis pasar logam dari Benchmark Minerals. "Tapi ini juga menciptakan ketergantungan global pada satu titik suplai. Itu rapuh secara geopolitik."

Dominasi Tiongkok dalam pengolahan nikel Indonesia menimbulkan kekhawatiran di negara-negara Barat. Uni Eropa dan Amerika Serikat mendorong diversifikasi rantai pasok melalui investasi di Afrika dan Amerika Latin. Namun hingga kini, tak ada yang bisa menyaingi efisiensi dan skala produksi Indonesia-Tiongkok.


Di balik kilau logam: lingkungan dan konflik sosial

Namun, di balik gemerlap industri nikel, tersimpan cerita muram. Proyek-proyek smelter dan tambang meninggalkan jejak ekologis yang dalam. Deforestasi, pencemaran sungai, serta pembuangan tailing ke laut adalah isu yang terus menghantui kawasan penghasil nikel.

Di Sulawesi dan Maluku Utara, warga lokal sering kali terpinggirkan oleh ekspansi industri. Konflik lahan dengan masyarakat adat, degradasi lingkungan hidup, dan minimnya partisipasi publik dalam perencanaan proyek menjadi persoalan serius.

"Kami kehilangan sumber air bersih sejak smelter berdiri," ujar Yusran, warga Bahodopi, kepada BBC News Indonesia dalam liputan investigasi pada 2023. "Hutan tempat kami menggantungkan hidup sudah berubah jadi pabrik."

Studi dari WALHI menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan tambang dan industri pengolahan nikel di Indonesia tidak memenuhi standar analisis dampak lingkungan (AMDAL) secara menyeluruh. Belum lagi risiko kesehatan akibat emisi logam berat dan limbah.

Dari sisi sosial, laporan Tempo mencatat bahwa pada 2023 terjadi lebih dari 30 insiden protes dan mogok kerja di kawasan industri nikel. Buruh menuntut upah layak, perlindungan keselamatan kerja, dan transparansi rekrutmen tenaga asing.


Nikel dalam pusaran transisi energi

Nikel kini menjadi bahan bakar transisi energi global. Negara-negara berlomba mengamankan pasokan untuk mendukung target net zero emission. Tapi dalam perlombaan ini, muncul pertanyaan besar siapa yang diuntungkan? Siapa yang dikorbankan?

Pemerintah Indonesia menggadang hilirisasi nikel sebagai strategi untuk melompat ke era industri 4.0. Namun sebagian pengamat menyebut pendekatan ini masih berorientasi pada ekspor bahan baku, bukan pengembangan teknologi atau ekosistem industri domestik.

"Kita belum punya industri baterai dan EV yang matang," ujar Bhima Yudhistira, direktur CELIOS. "Yang terjadi adalah ekstraksi dan ekspor dalam bentuk baru. Sebagian besar nilai tambah tetap dinikmati oleh pihak asing."

Ironisnya, sementara nikel Indonesia menopang baterai Tesla dan pabrik-pabrik EV di Jerman, warga sekitar tambang harus berhadapan dengan polusi dan risiko sosial.

Di sisi lain, tantangan juga datang dari teknologi. Perusahaan seperti BYD dan Tesla kini mulai mengembangkan baterai berbasis lithium-ferrofosfat (LFP) yang lebih murah dan tidak membutuhkan nikel. Meski kapasitasnya masih kalah, tren ini bisa menggeser peta permintaan dalam dekade mendatang.

"Permintaan nikel tetap kuat, tapi tidak absolut," ujar Alice Yu, analis dari S&P Global. "Jika teknologi baterai berkembang lebih cepat dari yang diperkirakan, dominasi nikel bisa tergoyahkan."

Selain itu, tingkat daur ulang nikel global masih rendah kurang dari 10%. Padahal logam ini bisa didaur ulang tanpa kehilangan kualitas. 

Perusahaan seperti AquaMetals di AS dan JX Nippon di Jepang tengah mengembangkan metode daur ulang yang lebih efisien untuk menutup celah pasokan.


Akankah nikel menjadi berkah atau kutukan?

Nikel adalah potret ambivalen dari modernitas. Ia membangun dunia digital dan hijau, namun juga menimbulkan luka ekologis dan sosial. Ia menyatukan pabrik-pabrik di Eropa dan kampung-kampung di Sulawesi dalam satu rantai pasok global yang tak selalu adil.

Akankah Indonesia mampu mengelola nikel sebagai berkah yang berkelanjutan, atau justru terjerumus dalam kutukan sumber daya seperti yang menimpa minyak di Venezuela atau kobalt di Kongo?

Kunci jawabannya ada pada regulasi, tata kelola, dan visi jangka panjang. Pengawasan lingkungan yang ketat, perlindungan buruh, investasi dalam riset dan pengembangan, serta keterlibatan masyarakat lokal adalah elemen vital.

"Kita harus bergerak dari model ekstraktif menuju ekonomi sirkular," kata Nur Hidayati, Direktur WALHI Nasional. "Nikel bisa menjadi berkah, tapi hanya jika kita mengubah cara mengelolanya."