Boeing meraih keuntungan besar dari kesepakatan tarif dagang yang dijalin AS dengan Indonesia dan Jepang. (Jason Redmond/AFP via Getty Images)

Boeing kembali menjadi bintang dalam kesepakatan tarif terbaru Amerika Serikat. Lewat negosiasi dagang yang dipimpin langsung Presiden Donald Trump, raksasa dirgantara AS itu berhasil mengamankan komitmen pembelian sebanyak 150 unit pesawat dari dua negara mitra utama yaitu Indonesia dan Jepang.

Deal ini bukan cuma soal angka. Boeing tak hanya mendapat pesanan jumbo, tapi juga keuntungan strategis lewat pemangkasan tarif ekspor yang selama ini jadi ganjalan. 

Dalam kesepakatan yang diumumkan sejak pertengahan Juli 2025, Indonesia tercatat akan membeli 50 unit pesawat Boeing banyak pihak memperkirakan jenisnya adalah 777 sementara Jepang menyepakati pembelian 100 unit tambahan. Nilai total pesanan diperkirakan mencapai belasan miliar dolar AS.

Khusus Jepang, kesepakatan juga mencakup peningkatan belanja pertahanan. Negeri Sakura disebut bakal memperluas pembelian alat militer buatan AS seperti F-15EX dan helikopter Apache, yang notabene juga diproduksi Boeing. Sebagai imbal balik, Washington memangkas bea masuk produk Jepang dari 25% menjadi 15%, memperlancar ekspor barang teknologi tinggi ke pasar AS.

Strategi Trump dalam membangun kesepakatan dagang memang khas. Ketimbang fokus pada tarif semata, ia mendorong mitra dagang untuk "membeli Amerika", termasuk sektor aviasi dan pertahanan. 

Praktik ini bukan hal baru. Menurut Bruce Hirsh, pakar kebijakan perdagangan di Capitol Counsel, pola semacam ini sudah terlihat sejak periode pertama Trump. “Mitra dagang tahu bahwa cara terbaik menghindari sanksi tarif adalah dengan membeli produk AS yang bernilai tinggi,” ujarnya, dikutip dari Axios.

Bagi Boeing, momentum ini sangat krusial. Setelah sempat terpukul karena berbagai faktor seperti penurunan laba, gangguan pengiriman ke China, dan tekanan pasar akibat tarif global, perusahaan ini mulai menunjukkan tanda pemulihan. 

Saham Boeing tercatat telah naik lebih dari 29% sepanjang 2025, seiring membaiknya sentimen pasar dan masuknya pesanan besar. Tak hanya itu, aliran kas perusahaan ikut terdongkrak berkat pembayaran uang muka dan skema pembayaran bertahap dari pesanan ini.

Tak sedikit pengamat menyebut kesepakatan ini sebagai bentuk diplomasi dagang berbasis industri. Dengan menjadikan Boeing sebagai ujung tombak, AS menggabungkan kepentingan ekonomi dan geopolitik dalam satu paket. 

Model ini disebut akan menjadi pola baru dalam hubungan dagang bilateral AS, yang kemungkinan juga akan diterapkan ke negara-negara lain seperti India dan bahkan China.

Axios menyoroti bahwa Boeing mendapat manfaat ganda dalam kesepakatan kali ini: pesanan konkret dan perlindungan kebijakan yang memperkuat posisi mereka di pasar global. Artinya, selain menambah backlog produksi, Boeing juga mendapatkan insentif yang membuat biaya ekspor lebih kompetitif.

Jika skema ini berlanjut, Boeing berpotensi makin mendominasi pasar pesawat global, terutama di tengah perlambatan pertumbuhan Airbus akibat gejolak logistik dan pembatasan pasokan di Eropa. 

Bagi Indonesia dan Jepang, deal ini adalah cara cepat menghindari konflik tarif sekaligus mempererat hubungan dagang dengan Washington di era ketidakpastian geopolitik.

Dengan performa saham yang mulai menanjak dan likuiditas yang menguat, Boeing tampaknya sedang kembali ke orbitnya. 

Kesepakatan dagang model begini jelas menguntungkan setidaknya untuk saat ini bagi semua pihak. Tapi yang paling untung? Tak diragukan lagi adalah Boeing.