![]() |
| Lonjakan global terhadap matcha memicu kelangkaan pasokan di Jepang. Dari media sosial hingga perubahan iklim, tren ini mulai mengancam tradisi teh hijau Jepang yang sakral. (Japantrips.id) |
Media sosial, pariwisata, perubahan iklim, dan tarif AS mempercepat lonjakan permintaan matcha, memicu krisis pasokan yang mulai mengusik warisan budaya Jepang.
Musim semi lalu, Masahiro Yoshida berdiri di tengah ladang tehnya di Uji, Kyoto, dengan ekspresi cemas. Ia adalah petani teh generasi keenam yang sudah terbiasa dengan dinamika cuaca.
Namun tahun ini berbeda. "Musim panas lalu sangat panas hingga merusak semak-semak teh. Kami tidak bisa memetik banyak daun," katanya.
Uji dikenal sebagai daerah penghasil matcha premium terbaik di Jepang. Tapi perubahan iklim yang kian ekstrem membuat hasil panen menurun drastis.
Yoshida hanya mampu memanen sekitar 1,5 ton tencha daun teh untuk matcha atau turun sekitar 25 persen dibanding musim sebelumnya. Ini bukan hanya pukulan bagi para petani, tetapi juga menandai awal dari krisis pasokan yang lebih luas.
Data FAO mencatat bahwa harga teh global naik 15 persen dibanding rata-rata jangka panjang. Dan dalam kategori ini, matcha menjadi salah satu pendorong utama inflasi pangan dunia pada 2024. Di Kyoto, harga daun tencha bahkan melonjak dua kali lipat hingga menembus 8.000 yen per kilogram dalam lelang terakhir.
"MatchaTok" dan Antrean Panjang di Kyoto
Salah satu pemicu lonjakan permintaan matcha bukan berasal dari Jepang sendiri, melainkan dari luar negeri. Tagar #MatchaTok di TikTok telah ditonton puluhan juta kali, menciptakan sensasi global terhadap minuman teh hijau kental ini.
Di AS dan Eropa, matcha kini hadir dalam bentuk es krim, donat, kue, hingga martabak. Matcha latte menjadi menu wajib di banyak kafe hipster.
Lauren Purvis dari Mizuba Tea Co., distributor matcha asal Oregon, mengaku kewalahan. "Beberapa kafe bahkan meminta satu kilo per hari. Mereka mati-matian berusaha memenuhinya," katanya.
Padahal, matcha premium bukanlah komoditas yang bisa diproduksi massal. Dibutuhkan daun teh muda yang ditanam di tempat teduh, dipetik tangan, lalu digiling batu hingga menjadi bubuk halus.
Pariwisata juga memperkeruh situasi. Ribuan wisatawan asing memadati Kyoto dan Uji, memborong matcha sebagai suvenir dan memburu pengalaman upacara minum teh. Di kota Uji, rak-rak matcha ludes dalam sehari.
"Matcha berkualitas tinggi dari Uji tidak dapat diproduksi massal... stok untuk seremonial kadang habis dalam sehari," ungkap salah satu pelaku usaha lokal.
Bahkan sejumlah pengecer terpaksa memberlakukan pembatasan pembelian. Dalam beberapa bulan terakhir, pembeli hanya diperbolehkan membeli maksimal dua unit per kunjungan.
Produksi Naik Tiga Kali Lipat, Tapi Tetap Kurang
Jika dilihat secara makro, produksi matcha Jepang justru menunjukkan tren positif selama satu dekade terakhir. Sejak 2010, produksi matcha meningkat hampir tiga kali lipat, dari 1.471 ton menjadi 4.176 ton pada 2023. Produksi tencha, bahan baku matcha, juga naik 2,7 kali lipat dalam 10 tahun terakhir.
Namun, pada 2025, tren itu seakan menabrak tembok. Gelombang panas ekstrem membuat hasil panen anjlok. Dan di saat bersamaan, permintaan global terus melonjak. Akibatnya, Jepang mengalami kekurangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ekspor teh hijau Jepang, termasuk matcha, mencapai 36,4 miliar yen (sekitar US$252 juta) pada 2024, naik 25 persen dibanding lima tahun sebelumnya. Sebagian besar ekspor itu dikirim ke Amerika Serikat yang menyerap lebih dari 44 persen dari total volume. Diikuti oleh Jerman dan beberapa negara Asia lainnya.
Namun, dalam kondisi pasokan menurun dan permintaan terus naik, tekanan harga pun tak terhindarkan. Harga matcha di pasaran internasional melonjak hingga 30 persen. Distributor seperti Purvis bahkan mulai mengantisipasi kelangkaan dengan menaikkan harga dan membatasi suplai ke kafe dan restoran.
Tarif 15% dari AS: “Tidak Ada Industri Amerika yang Terancam”
Seakan krisis iklim belum cukup, Jepang kini juga harus menghadapi tekanan dari kebijakan dagang Amerika Serikat.
Pada pertengahan 2025, Washington memberlakukan tarif impor sebesar 15 persen untuk produk Jepang, termasuk matcha. Ini menyusul kebuntuan dalam negosiasi dagang antara kedua negara.
“Karena teh Jepang tidak ditanam di AS, tidak ada industri Amerika yang terancam yang perlu dilindungi tarif,” kata Lauren Purvis. Namun, fakta ini tak menghalangi AS untuk memungut tarif yang menurut banyak pelaku industri tidak adil.
Pemberlakuan tarif ini memukul distributor seperti Mizuba Tea Co. yang harus memutuskan antara menaikkan harga jual atau menanggung beban sendiri. Bagi produsen di Jepang, tarif tersebut bisa mempersempit margin keuntungan mereka yang sudah tipis akibat naiknya biaya produksi.
Kondisi ini diperparah dengan kebijakan logistik yang belum fleksibel. Banyak produsen kecil kesulitan mengakses pasar luar negeri karena keterbatasan infrastruktur dan kapasitas produksi yang tidak bisa ditingkatkan secara instan.
"Agak Menyedihkan Melihat Matcha Bermutu Tinggi Digunakan dalam Masakan"
Di tengah hiruk pikuk tren global, ada suara lirih dari komunitas budaya teh Jepang yang mengingatkan soal nilai-nilai spiritual matcha. Atsuko Mori dari Camellia Tea Ceremony di Kyoto menyuarakan keprihatinannya.
"Agak menyedihkan melihat matcha bermutu tinggi digunakan dalam masakan di mana rasa lembutnya sering hilang."
Kritik ini menyasar tren penggunaan matcha kualitas tinggi untuk keperluan kuliner seperti kue, pasta, atau bahkan makanan cepat saji. Padahal, matcha kelas seremonial dirancang untuk dinikmati dalam bentuk murni, sebagai bagian dari upacara minum teh (chado/sado) yang sakral dan penuh perenungan.
![]() |
| Untuk menjaga warisan budaya, matcha premium disarankan hanya digunakan dalam bentuk minuman, bukan pelengkap dapur modern. (Getty Images) |
Asosiasi Teh Jepang Global bahkan mengeluarkan seruan resmi agar pelaku industri dan konsumen global lebih sadar akan jenis dan kegunaan matcha. Mereka menyarankan agar matcha berkualitas rendah digunakan untuk kebutuhan kuliner, dan kualitas tinggi dijaga untuk konsumsi minuman.
"Mempromosikan kesadaran akan perbedaan ini membantu memastikan teh Jepang dinikmati dengan hormat," tulis pernyataan resmi asosiasi tersebut.
Namun kenyataannya, pasar global lebih tergiur pada visual dan tren viral ketimbang nilai-nilai spiritual. Di platform seperti Instagram, tampilan matcha dalam bentuk latte atau dessert menjadi magnet kuat.
Tak jarang, aspek filosofis dan nilai kontemplatif matcha justru tergerus oleh kebutuhan komersial dan estetika digital.
Antara Komoditas Global dan Warisan Budaya
Yuki Ishii, pendiri Tealife, distributor teh Jepang untuk pasar Asia Tenggara, menuturkan realitas pahit: "Saya hampir selalu kehabisan stok."
Ia bukan satu-satunya. Dari Uji hingga Tokyo, permintaan matcha kini lebih tinggi dari kapasitas produksi nasional. Meski banyak produsen kecil mencoba menambah kapasitas, prosesnya tidak bisa instan. Diperlukan keahlian bertahun-tahun untuk menanam, memanen, dan menggiling matcha dengan kualitas premium.
![]() |
| Matcha memiliki sejarah panjang dan kompleks yang bermula ribuan tahun lalu, ketika Jepang masih dipimpin oleh para Shōgun dan Tiongkok oleh kekaisaran. (Japan Trips) |
Lebih dari sekadar minuman, matcha telah menjelma menjadi komoditas global dengan konsekuensi serius bagi tradisi lokal. Dalam upacara teh, matcha disiapkan perlahan, diminum dalam diam, dan diiringi tata cara tertentu yang telah diwariskan sejak zaman feodal.
Kini, di tengah lonjakan permintaan, sebagian masyarakat Jepang khawatir bahwa sisi sakral dari matcha mulai terkikis.
Rie Takeda dari Chazen menyebut fenomena ini sebagai ambivalensi budaya. "Ini merupakan pintu gerbang bagi lebih banyak orang untuk mengenal budaya Jepang," katanya.
Namun ia juga menyadari bahwa pelestarian nilai tradisional menjadi tantangan besar di tengah derasnya arus komersialisasi.
Menuju Konsumsi yang Lebih Sadar
Meski tantangan tampak besar, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Sejumlah pelaku industri mulai mengedukasi konsumen tentang pentingnya kualitas dan asal-usul matcha.
Bahkan beberapa kafe di luar negeri kini menyertakan informasi tentang sumber matcha mereka dan cara penyajian yang sesuai.
Di Jepang sendiri, pemerintah mulai menggulirkan insentif bagi petani muda untuk menggarap ladang teh. Hal ini penting karena saat ini mayoritas petani teh adalah lansia. Tanpa regenerasi, risiko penurunan produksi akan semakin tinggi.
Asosiasi Teh Jepang juga mulai bekerja sama dengan kementerian perdagangan dan pariwisata untuk menyeimbangkan promosi budaya dan konservasi pasokan. Harapannya, popularitas matcha global bisa diarahkan menjadi kekuatan diplomasi budaya yang berkelanjutan.
Sebagaimana disampaikan Masahiro Nagata dari Matcha Tokyo: "Saat ini sedang booming dan permintaan meningkat pesat, tetapi kami rasa hal ini akan sedikit mereda dalam dua hingga tiga tahun."
Namun, jika krisis iklim, lonjakan permintaan, dan tekanan tarif tidak ditangani secara komprehensif, "kehausan" dunia akan matcha bisa benar-benar menguras habis warisan budaya Jepang yang selama ini dijaga dengan penuh hormat.



0Komentar