![]() |
| Sejumlah barang impor asal Amerika Serikat diperkirakan turun harga setelah kebijakan tarif 0 persen diterapkan. Benarkah iPhone ikut terdampak? (Bloomberg) |
Sejumlah harga barang impor dari Amerika Serikat diperkirakan bakal lebih murah di pasar Indonesia mulai tahun ini. Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan tarif impor 0 persen untuk lebih dari 99 persen produk asal Negeri Paman Sam, mencakup berbagai sektor mulai dari pertanian, kesehatan, boga bahari, teknologi informasi dan komunikasi, otomotif, hingga bahan kimia. Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan dagang terbaru Indonesia-AS yang diumumkan pekan ini.
Kebijakan ini membuat berbagai komoditas strategis, khususnya kebutuhan pangan dan industri, berpotensi mengalami penurunan harga.
Bhima Yudistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), menyebut produk yang kemungkinan turun harga antara lain gandum, kedelai, jagung, susu, keju, mesin industri, serta suku cadang pesawat.
“Impor produk dari AS akan membengkak, salah satunya sektor migas, produk elektronik, suku cadang pesawat, serealia, serta produk farmasi,” kata Bhima, mengingatkan potensi lonjakan impor sekaligus dampaknya terhadap neraca perdagangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengimpor sekitar 2,8 juta ton kedelai dari AS setiap tahun dari total kebutuhan 3,3 juta ton.
Meski begitu, harga tahu dan tempe tak akan ikut turun. Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin menyebut harga kedelai sudah bebas tarif 0 persen sejak 20 tahun lalu, sehingga tidak ada pengaruh signifikan.
“Harga akan normal saja karena kebijakan 0 persen sudah 20 tahun. Tidak turun, tetapi juga tidak ada kecenderungan naik karena harga dolar,” ujarnya.
Selain kedelai, produk pangan lain seperti gandum dan jagung berpeluang lebih terjangkau. Harga susu dan keju impor dari AS juga berpotensi menurun, terutama setelah Indonesia menghapus hambatan non-tarif, termasuk sertifikasi dan persyaratan kandungan lokal, yang sebelumnya menambah biaya distribusi.
Menurut keterangan resmi Gedung Putih, “Indonesia akan menghapus hambatan tarif, berdasarkan preferensi, pada lebih dari 99 persen produk ekspor AS ke Indonesia di semua sektor.”
Namun, tak semua barang ikut merasakan efek kebijakan ini. Perangkat elektronik seperti iPhone dipastikan tidak mengalami penurunan harga.
“Tidak ada pengaruhnya karena made in China dan Vietnam,” jelas Bhima, merujuk pada fakta bahwa mayoritas produk gawai asal merek AS justru diproduksi di luar negeri.
Di sisi lain, kebijakan ini menjadi sinyal liberalisasi perdagangan yang berpotensi mendongkrak konsumsi dan investasi. Indonesia juga mendapat penurunan tarif ekspor ke AS, dari 32 persen menjadi 19 persen.
Meski begitu, Bhima mengingatkan perlunya kewaspadaan agar neraca dagang tidak jebol, mengingat impor dari AS bisa meningkat drastis di sektor pangan, energi, dan industri.
Dengan kebijakan ini, konsumen Indonesia setidaknya bisa berharap harga beberapa produk kebutuhan pokok dan industri menjadi lebih terjangkau.
Namun, dampak riilnya terhadap pasar akan sangat bergantung pada nilai tukar rupiah, biaya logistik, dan dinamika global yang memengaruhi harga komoditas.

0Komentar