![]() |
| Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock |
Uni Emirat Arab membukukan ekspor minyak mentah dan kondensat rata-rata 3,7 juta barel per hari sepanjang Juni, level tertinggi yang pernah dicatat negara itu. Capaian ini sekaligus melampaui posisi sebelum pecahnya perang, hanya dua bulan setelah Abu Dhabi resmi hengkang dari OPEC pada 1 Mei.
Data pelacakan kapal dari Kpler dan Vortexa yang dikutip Reuters menunjukkan pengapalan minyak mentah Abu Dhabi menembus 4 juta barel per hari sepanjang 1-29 Juni. Angka itu jauh di atas rata-rata Januari, sekitar 3,4 juta barel per hari, sebelum konflik AS-Israel dengan Iran pecah akhir Februari.
Pemulihan ini terbilang cepat. Ekspor minyak UEA sempat anjlok ke 1,9 juta barel per hari pada Maret, setelah Iran menutup Selat Hormuz dan memutus jalur utama pengapalan minyak Teluk. Jalur pipa berkapasitas 1,5 juta barel per hari yang menghubungkan Abu Dhabi ke Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman menjadi penopang, karena posisinya di luar jangkauan Selat Hormuz.
Secara kawasan, pengapalan minyak Teluk di luar Iran melonjak 65% secara bulanan menjadi 7 juta barel per hari pada Juni. Meski begitu, volume itu masih jauh di bawah level sebelum perang yang mencapai sekitar 16,6 juta barel per hari.
Keluarnya UEA dari OPEC menghapus kuota produksi yang selama ini mengekang Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), yang telah menggelontorkan investasi besar untuk memperluas kapasitas. Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan pada Mei memerintahkan ADNOC mempercepat pembangunan pipa kedua menuju Fujairah, yang akan menggandakan kapasitas ekspor jalur pintas Hormuz pada 2027.
Badan Energi Internasional memproyeksikan produksi UEA bisa mencapai 5,2 juta barel per hari pada 2027, naik 730.000 barel per hari dari tahun sebelumnya.
Lonjakan pasokan dari Teluk ikut menekan pasar minyak mentah fisik ke diskon yang lebih lebar, menurut laporan Reuters. Tekanan harga bertambah setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan damai sementara pertengahan Juni, yang membuat harga minyak Brent anjlok lebih dari US$4 per barel pada hari pengumuman.
Analis memperingatkan langkah UEA keluar dari OPEC berpotensi menambah volatilitas struktural di pasar minyak. "Bersiaplah untuk guncangan yang lebih sering dipicu oleh komoditas," kata Charles-Henry Monchau dari Syz Bank kepada Trustnet. Ia menambahkan, pergeseran ini "cukup bearish untuk keseimbangan harga minyak jangka menengah".
0Komentar