Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dalam sebuah diskusi meja bundar bersama para pemimpin bisnis terkemuka di Ruang Roosevelt, Gedung Putih. | WHITE HOUSE

Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat kemungkinan akan mengambil alih kendali Selat Hormuz. Ia juga menuntut negara-negara lain mengganti biaya yang selama ini dikeluarkan Washington untuk menjaga jalur perairan strategis tersebut. 

Pernyataan itu keluar di tengah baku serang yang belum reda antara pasukan AS dan Iran di titik paling vital jalur minyak dunia itu. "Kami akan mempertahankan selat ini, dan kami kemungkinan akan mengelolanya," ujar Trump, dikutip Reuters pada Senin (13/7). 

Ia menyebut AS sebagai "malaikat pelindung" Selat Hormuz dan menegaskan negaranya selama ini menjaga jalur itu tanpa bayaran sepeser pun. Kondisi itu, katanya, harus berubah. Negara-negara kaya diminta ikut menanggung biayanya.

Klaim itu muncul ketika AS dan Iran sama-sama mengaku menguasai Selat Hormuz, buntut serangkaian serangan yang mengguncang Timur Tengah sepanjang akhir pekan. Militer AS telah menghantam lebih dari 300 target di wilayah Iran sejak Teheran melanggar gencatan senjata rapuh dengan menembakkan rudal ke kapal-kapal dagang pada 6 Juli. 

Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan jalur itu ditutup usai pasukan AS meluncurkan gelombang serangan ketiga yang menghantam 140 situs militer Iran pekan lalu.

Trump bersikeras selat itu tetap terbuka untuk kapal dagang. Faktanya berbeda. Hanya satu kapal melintas di masing-masing arah sepanjang 24 jam pekan lalu. Otoritas keamanan maritim pun menaikkan status ancaman ke level parah.

Sikap Trump kali ini bertolak belakang dari pernyataannya sendiri sebulan lalu. Pertengahan Juni, setelah meneken gencatan senjata sementara dengan Iran, ia menjanjikan selat itu akan bebas bea secara permanen. Nada itu mulai melunak pada 20 Juni, saat kesepakatan mulai retak. 

Lewat Truth Social, ia memperingatkan AS bisa mengenakan bea "atas jasa yang telah diberikan sebagai Malaikat Pelindung bagi negara-negara di Timur Tengah" jika kesepakatan final tidak tercapai dalam 60 hari.

Ancaman itu jadi kenyataan lebih cepat dari perkiraan. Kesepakatan runtuh awal Juli setelah Iran menyerang kapal-kapal komersial di selat tersebut. Trump menyatakan gencatan senjata resmi berakhir pada 7 Juli. Sejak itu konflik meluas cepat. Iran membalas ke pangkalan-pangkalan AS sekaligus menyerang sekutu Washington, termasuk Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasa melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini langsung mengguncang pasar energi global. Para analis menyebut kepada Fortune harga minyak berpeluang melonjak mendekati US$90 per barel, sementara volume pengiriman normal diperkirakan baru pulih setelah berbulan-bulan. 

Badan Energi Internasional memproyeksikan surplus pasokan baru terjadi pada 2027, itu pun dengan asumsi selat tersebut sudah stabil kembali. Jalan menuju kesepakatan damai jangka panjang sendiri masih jauh dari terlihat.