Taman Merlion (Merlion Park), sebuah objek wisata ikonik yang terletak di kawasan pusat kota Singapura. | fad3away/CC BY-SA 2.0

Singapura menembus posisi lima besar pusat keuangan dunia, menggeser China dan Luksemburg dalam pemeringkatan lembaga kajian keuangan New Financial yang berbasis di London. Negara-kota ini melompat dari peringkat kesembilan pada 2015 ke posisi kelima saat ini, didorong oleh derasnya aliran aset perbankan asing dan investasi langsung dari luar negeri.

Amerika Serikat, Inggris, dan Hong Kong masih kokoh di tiga posisi teratas. Namun kenaikan Singapura tergolong signifikan mengingat pemeringkatan New Financial menitikberatkan pada aktivitas keuangan lintas negara, bukan sekadar besaran sektor keuangan domestik. Indikator yang dipakai mencakup aset kelolaan, kepemilikan aset bank asing, hingga penghimpunan dana dari sektor publik dan swasta.

Hingga akhir 2025, total aset yang dikelola di Singapura sudah mencapai S$6,7 triliun. Angka ini terus terdongkrak seiring perubahan kebijakan di berbagai negara yang membuat sebagian individu berkekayaan tinggi mencari tempat baru untuk menyimpan aset mereka. 

Fenomena ini turut memantik ekspansi sejumlah bank global di Singapura, termasuk JPMorgan Chase, yang memperbesar operasinya untuk menangkap pertumbuhan pesat sektor pengelolaan kekayaan di sana.

Otoritas keuangan Singapura pun tak tinggal diam. Mereka menggandeng bank-bank swasta untuk memangkas waktu pembukaan rekening bagi nasabah kaya menjadi sekitar satu bulan saja, lewat pendekatan berbasis risiko yang lebih proporsional.

Selain Singapura, New Financial juga mencatat India, Irlandia, dan Kanada sebagai pusat keuangan internasional dengan laju pertumbuhan tercepat dalam satu dekade terakhir, seperti dikutip TheBusinessTimes.

Kekuatan finansial Singapura ditopang tiga entitas investasi besar dengan mandat berbeda: GIC sebagai reserves manager, Temasek dengan pendekatan active ownership, dan MAS selaku otoritas moneter yang menjaga stabilitas SGD. Ketiganya berbeda jauh dari sisi skala dana kelolaan, seperti terlihat pada grafik berikut.

Tiga entitas investasi Singapura

Total aset kelolaan berdasarkan mandat masing-masing lembaga (akhir 2025)
Sumber: UniversalAssetOwners, The Business Times (2026)
i Klik atau arahkan kursor ke batang grafik untuk melihat detail

GIC menjadi yang terbesar di antara ketiganya. Menurut UniversalAssetOwners, portofolio GIC kini didominasi Amerika, naik dari tahun sebelumnya, seiring performa ekuitas AS yang menguat, sementara porsi Asia Pasifik relatif kecil.

Alokasi regional portofolio GIC

Porsi Amerika naik dari 44% menjadi 49% seiring penguatan ekuitas AS
Sumber: UniversalAssetOwners (2026)
i Klik atau arahkan kursor ke tiap segmen untuk melihat detail

GIC secara prinsip berinvestasi eksklusif di luar Singapura. Alasannya, investasi di dalam negeri berisiko mengerek harga aset lokal sekaligus memicu konflik kepentingan. Dari sisi distribusi aset, ekuitas menjadi kelas aset yang paling dominan dalam portofolio GIC, disusul fixed income dan real assets.

Komposisi portofolio GIC

Distribusi aset kelolaan GIC berdasarkan kelas instrumen
Sumber: UniversalAssetOwners (2026)
i Klik atau arahkan kursor ke tiap segmen untuk melihat detail

Pada 2024, GIC tercatat sebagai sovereign wealth fund terbesar yang menanamkan modal ke startup Eropa, dengan nilai investasi mencapai US$1,9 miliar, mengungguli fund manapun di dunia, menurut catatan Sifted.

Entitas kedua, Temasek, mengelola dana dengan pendekatan active ownership. Perusahaan-perusahaan asal Singapura seperti DBS, Singapore Telecom, dan Keppel mencakup 41% dari total portofolio Temasek, seperti diungkap UniversalAssetOwners. Sisanya tersebar di kawasan Asia, Amerika, Eropa, dan Timur Tengah.

Entitas ketiga adalah MAS, otoritas moneter yang mengelola cadangan devisa negara. Berbeda dari dua lembaga sebelumnya, MAS bergerak lebih konservatif dengan fokus pada instrumen likuid demi menjaga stabilitas SGD.