APLUSWIRE/Robin Santoso

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diberi mandat mengambil alih ekspor batu bara, sawit, dan feronikel — memicu guncangan pasar sebelum akhirnya kebijakannya dilunakkan.

Tiga pasar, satu pemain dominan

Pangsa ekspor global untuk tiga komoditas andalan Indonesia.
Ekspor Batu Bara
34,9% dunia
Indonesia34,9%
Australia19,6%
Rusia14,8%
Lainnya30,7%
Ekspor Minyak Sawit
54% dunia
Indonesia54%
Malaysia31%
Lainnya12%
Thailand3%
Ekspor Feronikel
84% dunia
Indonesia84%
Lainnya9,1%
Brasil3,5%
Kolombia3,4%

Nilai ekspor per tahun

Perkiraan nilai ekspor tahunan ketiga sektor yang akan disentralisasi.
Minyak Sawit & TurunannyaUS$37 miliar
Batu BaraUS$24,5 miliar
FeronikelUS$14 miliar

Ke mana komoditas ini mengalir?

Sejumlah pasar tujuan utama ekspor komoditas Indonesia.

China

Pembeli utama untuk ketiga komoditas sekaligus — batu bara, minyak sawit, dan feronikel.

India

Pembeli minyak sawit terbesar Indonesia, dengan impor mencapai 5,4 juta ton per tahun.

Jepang

Mengimpor sekitar 30 juta ton batu bara Indonesia setiap tahun.

Uni Eropa

Menyerap sekitar 1,7 juta ton CPO Indonesia per tahun untuk biodiesel dan industri.

Pakistan

Mengimpor sekitar 3,5 juta ton CPO dan produk turunannya setiap tahun.

Para pemain besar

Perusahaan-perusahaan Indonesia yang menopang ekspor sawit dan batu bara.

Eksportir sawit utama

  1. Sinar Mas Agro Resources and Technology
  2. Salim Ivomas Pratama
  3. Triputra Agro Persada
  4. Astra Agro Lestari
  5. Sawit Sumbermas Sarana

Eksportir batu bara utama

  1. Bayan Resources
  2. Golden Energy and Resources
  3. Indo Tambangraya Megah
  4. Adaro Andalan Indonesia
  5. Kaltim Prima Coal
Satu Entitas, Tiga Komoditas Dunia
Rencana sentralisasi ekspor batu bara, sawit, dan feroalloy di bawah kendali negara berpotensi mengubah arah perdagangan komoditas yang selama ini menopang rantai pasok energi dan pangan global.

Kronologi kebijakan DSI

Dari pengumuman di DPR hingga revisi kebijakan di tengah tekanan pasar.
20 Mei 2026

Pengumuman di DPR

Prabowo mengumumkan sentralisasi ekspor batu bara, CPO, dan feroalloy lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), sembari mengutip potensi kerugian negara ratusan miliar dolar akibat under-invoicing.
21 Mei 2026

Pasar bereaksi keras

IHSG anjlok sekitar 3,5–4% dalam sehari, dipimpin saham tambang dan komoditas. Rupiah melemah ke rekor terlemah di kisaran Rp17.705/US$.
1 Juni 2026

DSI mulai beroperasi

Tahap transisi dimulai: eksportir masih bertransaksi langsung dengan pembeli, namun dokumen ekspor mulai diverifikasi lewat DSI.
Pertengahan Juni 2026

Rencana dilunakkan

Setelah tekanan pasar dan protes eksportir, DSI batal menjadi pedagang tunggal. Kontrak lama tetap berlaku selama harganya wajar. Target implementasi penuh digeser ke 1 Januari 2027.
15 Juli 2026

Sikap China

Duta Besar China Wang Lutong menyatakan menghormati kebijakan ini, sembari mendorong Indonesia menjaga stabilitas dan prediktabilitas aturan.
20 Juli 2026

US$10,5 miliar dikelola

Prabowo menyatakan DSI telah mengelola devisa senilai US$10,5 miliar hanya dalam enam minggu pertama beroperasi.
September 2026

Soft launch platform

DSI merencanakan peluncuran bertahap sistem tata kelola ekspor terintegrasi, tetap dengan pendekatan bertahap dan berorientasi pasar.

Dampak ke pasar keuangan

Guncangan langsung setelah pengumuman kebijakan pada 20–21 Mei 2026.
−3,5%
Penurunan IHSG dalam sehari, dipimpin saham tambang & komoditas
Rp17.705
Rekor pelemahan rupiah terhadap dolar AS
US$10,5 M
Devisa yang dikelola DSI dalam 6 minggu pertama operasi


Sumber: Danantara, Oil World, International Energy Agency
Research: HRA/DWA
Grafik: APLUSWIRE/Fiki Andrianto