Suasana upacara wisuda di sebuah universitas di Tiongkok.

Tingkat pengangguran pemuda perkotaan di China mencapai 14,9% pada Juni, menjadi yang tertinggi untuk bulan tersebut sejak Beijing mengubah metodologi penghitungan lebih dari dua tahun lalu. Kenaikan itu muncul ketika rekor 12,7 juta lulusan perguruan tinggi bersiap memasuki pasar kerja yang semakin dipengaruhi penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Data yang dirilis Senin oleh Biro Statistik Nasional menunjukkan tingkat pengangguran kelompok usia 16-24 tahun, di luar pelajar, turun dari 15,6% pada Mei. Meski mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut, angkanya masih lebih tinggi dibandingkan Juni tahun lalu.

Beijing sempat menghentikan publikasi data pengangguran kaum muda pada pertengahan 2023 setelah angkanya menyentuh 21,3%. Statistik itu kembali diterbitkan mulai Januari 2024 dengan metodologi baru yang tidak lagi memasukkan pelajar ke dalam sampel.

Tekanan di pasar tenaga kerja diperkirakan belum mereda. Kementerian Pendidikan mencatat jumlah lulusan perguruan tinggi pada 2026 mencapai rekor 12,7 juta orang, sekitar 480.000 lebih banyak dibandingkan angkatan 2025.

Jika digabungkan dengan lulusan tahun-tahun sebelumnya yang masih mencari pekerjaan serta warga China yang baru kembali setelah menempuh studi di luar negeri, jumlah pencari kerja muda diperkirakan melampaui 15 juta orang. Perkiraan tersebut dilaporkan oleh The Guardian.

Ekonom Australia & New Zealand Banking Group, Zhaopeng Xing, memperkirakan tekanan akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring musim wisuda.

Pengangguran kaum muda, kata Xing, berpotensi kembali mendekati 20% dalam dua bulan mendatang karena pasokan tenaga kerja terus bertambah. Tahun lalu, tingkat pengangguran kelompok ini melonjak menjadi 17,8% pada Juli ketika para lulusan mulai memasuki dunia kerja.

Persaingan memperoleh pekerjaan juga dipengaruhi percepatan adopsi AI di berbagai sektor industri China. Sejumlah perusahaan mulai mengurangi perekrutan tenaga kerja tingkat awal dan lulusan baru, sekaligus menggantikan pekerjaan rutin dengan sistem otomatisasi, menurut laporan Modern Diplomacy.

Analisis memperkirakan AI telah mengambil alih lebih dari 80% tugas pemrograman tingkat awal serta lebih dari 90% pekerjaan administratif dan layanan pelanggan. The Guardian juga melaporkan bahwa posisi teknologi untuk level pemula menjadi salah satu yang paling terdampak oleh perubahan tersebut.